Rabu, 24 Februari 2010

Leher Kambing si Miskin

Sukses kampanye tauhid Rasululiah terutarna karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.
Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.
Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, "Hari ini kami serumah tak punya apa-apa." Si anak ngeyel, "Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami."
Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, "Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang."
Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.
Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan inakanan untuk beliau.
Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fagiy, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling 'gawat' dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, bahkan puasa kesejahteraan atau apalagi kemewahan sedemikian rupa. Kaum orientalis maupun kita-kita sampai sekarang jarang menyebut-nyebut betapa pentingnya etos satu ini untuk mempersyaratkan mutu kepemimpinan seseorang atau masyarakatnya.
Muhammad penguasa jazirah Arab, namun menolak untuk menjadi penguasa. Sebab ia adalah pemimpin.

Penguasa dan pemimpin adalah dua rnakhluk dan dua soal yang sama sekali berbeda. Penguasa memanage kekuasaan dirinya atas orang banyak, sedangkan pemimpin memanage cinta dan sistem penyejahteraan.
Ketika itu Muhammad sanggup memperoleh apa saja: dunia sudah digenggamnya. Ia sudah memiliki segala persyaratan untuk duduk di singgasana dan menikmati segala-galanya: jaringan, akar, geniusitas, ketrampilan manajemen, kependekaran fisik, atau apa saja yang harus dirriliki oleh seorang raja.
Namun Beliau ogah jadi raja. Raja itu malik.
'Malik' itu sifat Tuhan. Beliau memilih term Khalifah dan itu sama dengan fungsi setiap manusia, meskipun Allah memuliakannya dengan status nabi dan rasul. Muhammad makan hanya karena lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Beda dengan kita yang terus lapar dalam keadaan kekenyangan. Muhammad bersedia tidur beralaskan daun aren ketika pulang larut malam dan sungkan membangunkan Aisyah.
Muhammad punya pendahulu nenek-moyang yang bernama raja Sulaiman putra Daud. Allah menawarinya apakah mau menjadi raja dan kaya-raya seperti Sulaiman. Beliau menolak. Supaya masuk syurga duluan, beda dengan Sulaiman yang mendapat jatah terakhir sesudah semua nabi.
Apakah ia, Muhammad itu, seorang masochis-romantik? Seseorang yang sok, anti materi dan cengeng?

Bukankah Allah membuka pintu lebar-lebar, "Kuhamparkah bumi dan langit dan semua isinya. Makan dan minumlah, asal jangan berlebih-lebihan...."? Kenapa Muhammad memilih 'kekurangan' setidak-tidaknya menurut tolok ukur kita sekarang?
Memang kebanyakan kita sekarang jauh lebih kaya dibanding Mohammad. Bahkan 30 juta penduduk Indonesia yang kabarnya masih di bawah garis kemiskinan, belum tentu lebih parah keadaannya dibanding Muhammad. Betapa mungkin, seorang nabi, yang menurut logika moral seolah-olah berhak atas separo jazirah Arab beserta tambang-tambangnya: ketika wafat, malah masih punya hutang beberapa kilogram gandum kepada tetangganya seorang Yahudi? Kita yang satpam atau tukang ojek pun mungkin lebih baik dari itu keadaan ekonominya.
Namun jangankan Muhammad. Sedangkan kepala suku Ammatoa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepala suku Boti, Soe, Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana berlaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap pun dari rakyat. "Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat saya, mereka berhak meniru saya untuk meminta-minta" katanya, "saya harus mencontohkan bagaimana bertariggungjawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, maka dari piling yang saya buat sendiri
dan minum dengan gelas yang juga saya buat sendiri...."
Di mata kita dan cara berpikir kita sekarang, Muhammad dan Amatoa adalah pemimpin yang tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu bagaimana posisi, jabatan, kekuasaan dan peluang.
Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelurn menjadi nabi dan pemimpin, Muhammad membuktikan dulu perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan merijaga setiap ucapannya. Kemudian sesudah jadi nabi malah berhenti berdagang. Padahal 'mestinya' menurut gaya hidup kita yang maju dan modernsesudah tercapai menjadi penguasa itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omset dagang. Semakin tinggi kekuasaan di jalur birokrasi semakin banyak kesempatan fasilitas (dana, kemudahan-kemudahan, dominasi).
Tapi rupa-rupanya "perniagaan" Muhammad mernang lain. Ketika beliau diberi hadiah seekor kambing, lantas disembelih dan dibagi-bagikan ke seluruh tetangganya.
"Sudah habis semua, ya Rasul," kata Aisyah, "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu"..
"Tidak, Aisyah," sahut Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya kecuali lehernya."
Tentu ini diketawain oleh ideolog konsep kepemilikan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 21 Februari 2010

Kepada Siapakah Engkau Mengeluh?

Kepada siapakah engkau mengeluh?
Kepangkuan siapa engkau menumpahkan airmata?
Pintu rumah siapa yang engkau ketuk untuk meminta tolong?
Kalau hari janji telah tiba untuk membayar utang, padahal beras di dapur pun sudah menipis.

Apakah engkau akan mengetuk rumah para artis dan bintang film yang uangnya berlebih dan credit card-nya bertumpuk-tumpuk?
Kalau untuk memperoleh pekerjaan dua hari lagi engkau harus menyediakan ratusan ribu atau sekian juta rupiah uang terobosan: Apakah engkau akan bertamu ke rumah-rumah para eksekutif yang tinggal sekampung denganmu?
Kalau istrimu hendak melahirkan, apakah engkau bisa meminjam kendaraan tetanggamu yang rumahnya berpagar tinggi itu, atau bisakah engkau mencegat kendaraan-kendaaan pribadi yang kosong yang lalu-lalang di jalan umum?
Kalau nasibmu ditimpa gludug "rasionaliasi" alias di-PHK-kan, bisakah engkau lapor kepada Pak RT, Pak RW, Pak KAdus, Pak Kades atau para pamong lainnya yang merupakan pengayorn masyarakat?
Kalau dalam suatu kasus atau konflik di kantor engkau tercampakkan karena engkau tak memiliki kekuasaan, backing dan relasi akankah engkau menumpahkan airmata di kantor Polsek atau Koramil?
Kalau tanah-rumahmu dan tanah rumah teman-temanmu sekampung atau sekecamatn digusur tanpa ganti rugi yang memadai setidaknya karena disunat oleh oknum-oknum pelaksananya: ke manakah engkau akan lari?
Apakah ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah?
Kantor Cabang NU?
Atau kantor Orwil ICMI Atau ke rumah KH. Zainuddin MZ?
Kalau rasa cemburu memanggang dada-mu karena melihat tetangga begitu gampang berganti-ganti mode mobil. Kalau rasa jengkel menampar-nampar perasaanmu karena meiyaksikan jumlah kendaraan pribadi memenuhi lebih dari lima puluh persen jalan-jalan di kotamu. Kalau rasa perih, sakit dendam, menikam jantung ruhanimu, karena rnenghayati perbedaan-perbedaan tingkat hidup yang mencolok, menghayati ketimpangan, kesenangan dan ketidakseimbangan.
Siapakah yang bersedia mendengarkan keluhanmu?
Pak Pendeta?
Pak Cendekiawan?
Pak Seniman?
Pak Ulama?
Pak Khatib di rumah ibadah yang kata-katanya justru harus engkau dengarkan?

Kalau hatimu bingung oleh kesumpegan ekonomi. Kalau perasaanmu gundah oleh pusingan-pusingan hidup yang bak lingkaran setan. Kalau jiwamu serasa akan berputus asa karena sedemikian sukarnya menempuh hidup yang benar. Kalau sukmamu rasanya mau copot karena himpitan-himpitan nasib yang tak tertahankan.

Ke mana dan kepada siapakah engkau rebahkan keletihamu?
Kepada rninuman. keras, ganja, arak dan joget dangdut, mengasyiki ramalan angka-angka, menghirup rasa aman yang praktis melalui pengajian-pengajian akbar?
Adakah peluang, dan tidakkah dilarang, untuk mengemukakan isi hati kita seadanya dan sejujur-jujurnya kepada Pak Lurah, Pak Polisi, Pak Kiai, Pak Menteri, Pak Ilmuwan, Pak Wakil rakyat, Pak Profesional dan lain-lain?
Kalau mernang mungkin kapan dan di mana?
Bolehkah mendambakan bahwa Pak-pak itu pernah sesekali bertanya kepadamu tentang apakah hatimu sedang bersedih, apakah ada kesulitan dan problem yang tak bisa diatasi?
Kalau tidak, lantas kepada siapa engkau nengeluh? Siapa yang bersedia menjamin bahwa engkau dan anak istrimu tidak kelaparan? Siapa yang menemanimu membanting tulang menghabiskan waktu untuk sekadar mempertahankan penghidupan?
Siapa sahabatmu di dunia ini?
Siapa pemimpin yang santun dan memberimu rasa aman?
Allah menuntun mulut kita agar mengucapkan: "Innama asykubastsi wa huzni illalah."
Aku keluhkan derita dan kesedihanku kepada Allah. Tetapi bukankah Ia telah mewakilkan diri-Nya dan tugas-tugas itu kepada kita?
Akankah kita perintahkan Allah agar mengurusi soal kenaikan harga?

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Memasak Nasi dengan Doa dan Asap Dupa

Ayah saya panik melihat gejala saya akan menjadi mahasiswa abadi. Maka ia mengajak saya ke orang tua, semacam dukun...," tulis seorang gadis manis asal Ngawi, mahasiswa Sastra Inggris yang tampak sebel dengan banyak hal di keluarga juga di lingkungannya.
Mungkin saya sendiri yang bersalah. Hati saya terlalu menampung siapa saja. Antara lain yang berhubungan dengan perdukunan dan lain sebagainya, yang kemudian pernah saya tuliskan di media massa dengan judul Kasekten dan Kagunan.
Kalau di Yogya atau di beberapa tempat lain ada orang mau bikin apa-apa, nama saya suka dipakai untuk dijadikan stabilo kultural. Ada seminar kasekten, diskusi paranormal, pendirian badan pengobatan klasik non-medis: lho kok saya yang disuruh ngasih pengantar atau tampil di pers conference. Seolah-olah lantas menjadi sah kalau saya sudah bilang "Okay!"
Padahal dalam banyak urusan semacam itu saya dukung karena berkaitan dengan perluasan lapangan kerja.

Prestasi pembangunan kontemporer kita antara lain adalah menambah jumlah pengangguran, menugasi sarjana menjadi satpam atau penyiksa ratusan ribu pencari kerja dengan menyuruh mereka beli map dan kertas lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Maka segala upaya penciptaan lapangan kerja, sepanjang tidak bermusuhan dengan Tuhan, ya saya dukung sepenuhnya, meskipun untuk itu resikonya saya disalahpahami atau difitnah oleh orang banyak. yang tak mernahami persoalannya.
Maka adik dari Ngawi ini terperangah. Wong Cak Nun kok ngurusi dan seolah-olah meng-OK-kan soal-soal mistik begitu. Tatanan pikiran dan satu dua keyakinannya menjadi terbongkar.
"Saya lahir dan tumbuh di lingkungan Islam KTP alias Islam abangan," katanya, "Ayah saya tidak pernah salat dan hampir semua keluarga saya tidak pernah memperhatikan nilai-nilai agama. Sebenarnya saya ingin hidup di lingkungan keluarga yang Islami. Saya ingin beribadah secara teratur...."
"Bila ada rnasalah atau ingin naik pangkat, ayah saya selalu lari ke orang tua atau orang pintar. Di sana ayah akan dibekali gembolan berisi batu dupa, beras, atau ketan yang dibungkus. Ayah saya orangnya ambisius.

Anak-anaknya menjadi alat kendaraan dari cita-citanya, dia yang menjadi sopir. Makii ketika skripsi saya tidak jadi-jadi karena otak susah diajak kreatif, ia mengajak saya ke orang pintar tersebut. Saya buta masalah-masalah begitu dan sangat takut terjebak syirik. Saya menolak. Saya sempat depressed sebentar karena bingung, takut, cemas, dan kasihan melihat ayah Saya panik. Saya harus mendapatkan jawaban apa hubungan antara syirik dengan dunia kasekten dan pedukunan...."

Sungguh ini pemandangan jamak.
Kisah akan sangat panjang apabila harus kita uraikan.kenyataan tentang dunia pedukunan hakikat realitasnya, juga fungsi kultural dan politisnya. Tetapi untuk saat ini, putri Ngawi kita tak usah membuang-buang energi untuk mengurusi Gunung Kawi, persenggamaari massal Kemukus, dupa, Mbah Karto atau Mbah Karmo. Kelak saja untuk bahan tesis doktor, atau lupakan sama sekali, sebab soal-soal macam itu tak berhak atas ruang dan waktu yang tersedia dalam dirinya.
Yang pertama mesti dilakukan oleh mahasiswa kita ini adalah mensyukuri hidayah Allah bahwa di tengah lingkungan yang sekuler-abangan-kienik, malah lahir dalam dirinya dambaan-dambaan serius untuk mengIslamkan darah daging jiwa raganya.
Selanjutnya ambil jarak dari diri sendiri: engkau seorang yang dianugerahi kecerdasan pikiran, juga kejernihan hati. Skripsimu tak jadi-jadi hanya karena sukmamu belum bisa antisipatif, sumeleh dan tenteram terhadap banyak hal di dunia yang tak direlakan oleh naturnya. Hidupmu masih gugup dan gamang karena gairah untuk melawan ketidakberesan belum mendapatkan mitra kemampuan dan pengalaman yang seimbang.
Kalau engkau harus ikut bertemu ke rumah Mbah Dukun, datang saja, namun dengan niat bukan untuk merdukun (berdukun) melainkan untuk menyenangkan hati ayah--sementara engkau belum sanggup rnengubah kebiasaannya yang penuh penyakit. Soal syirik itu salah caramu memusingkan. Syirik tidak terletak di kuburan, dupa dukun, gembolan atau keris-keris, melainkan bersemayam di dalam gagasan-gagasanmu sendiri. Silakan tidur di kuburan asal sekadar untuk mengambil jarak dari keramaian. Silakan simpan keris seperti halnya engkau menyimpan sepatu dan boneka. Silakan bawa gembolan ke mana-mana
sebagaimana engkau bawa handy talky atau walk-man. Syirik bukan karena bendanya, tapi karena anggapanrnu terhadap benda itu. Jangankan menyembah keris dan dukun, sedangkan menyembah masjid, menyembah salat, menyembah Nabi Muharnmad saja pun syirik namanya.
Selebihnya segera selesaikan skripsi dengan matek aji, niat ingsun, bismillah dan istiqamah --- demi membahagiakan kedua orangtua dan demi supaya lebih gampang dapat pekeraan. Jangan terlalu membebani sekolahan, kampus, dosen-dosen. dan skripsi atau keseluruhan dunia ilrnu pengetahuan dengan kekecewaan-kekecewaan. Jangan minta terlalu banyak kepada semua itu. Kalau mencari ilmu, kearifan dan kemuliaan hidup, jangan andalkan itu semua. Lebih baik berharap kepada bagaimana caramu sendiri melihat dan memperlakukan matahari setiap pagi, dedaunan, tetangga, pasar atau impian-impian aneh setiap malam. Mintalah ilmu kepada Pemiliknya, petiklah anugerah-Nya di setiap butiran udara.
Adapun cara membuat skripsi sama dengan cara menanak nasi. Ialah tidak memakai asap dupa atau doa.

Menanak nasi sediakan kompor dan panci. Membuat skripsi ya menjalani segala metodologi rasional ilmiah yang diperlukan oleh hakikat kosmos suatu skripsi ilmiah.
Doa baru berhak engkau ucapkan hanya sesudah upaya rasional empirik dimaksimalkan.

Harian SURYA, Senin 28 Desember 1992
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Selasa, 16 Februari 2010

Cerdas, Terampil dan Jujur, tetapi Melarat

Seorang pemilik bengkel kendaraan bermotor dan toko onderdil tidak bisa memahami ulah seorang karyawanny a. Dalam suratnya ia menyatakan kebingungannya, apakah harus memecatnya atau memeliharanya terus. Karena di samping hal-hal tertentu merugikan bisnisnya, si karyawan ini juga merupakan kekayaan tersendiri da!am lingkaran usahanya.
"Dia memiliki keterampilan alamiah di bidang permesinan, bisa menangani yang kecil-kecil seperti jam tangan sampai mesin truk, dan tampaknya punya pengetahuan yang tidak rendah tentang mesin kapal.

Mungkin kalau pesawat ia angkat tangan, tetapi terhadap apa saja yang baru dan ia belum tahu, ia begitu penasaran. Dan kalau sudah penasaran, ia akan menghabiskan waktu untuk mempelajarinya, sehingga tugas-tugasnya terbengkalai. Ia lebih merupakan seorang "ilmuwan" daripada seorang karyawan bengkel mesin. " demikian tulis usahawan kita yang pusing ini.
"Ia otodidak penuh, mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sejak kanak-kanak. Kalau teknisi lain sudah angkat tangan dia selalu. menjadi pamungkas penyelesaian problemnya. Dia juga selalu sangat kritis, dan sesekali, sambil memperbaiki mesin mobil, ia menggerutu menyalahkan pabriknya yang dia keliru mengkonsep sistem-sistem tertentu."
"Tetapi justru karena keahliannya, ia seringkali merugikan usaha saya. Sampai tingkat tertentu ia bisa memperbaiki suatu onderdil dengan cara dan akal yang tak habis-habisnya sampai layak pakai kembali.

Tetapi itu berarti tingkat jual toko saya dirugikan. Padahal sudah menjadi kebiasaan bengkel di mana-mana untuk suka menyuruh pemilik mobil ganti onderdil, dan tentunya hal itu wajar dalam dunia bisnis."
"Yang lebih menjengkelkan, ia tak tahu bagaimana menyerap pembeli. Mestinya ia jangan gampang bilang bahwa mobil seseorang oke-oke saja. Omong kurang ini kurang itu kek, harus didandani ininya dan itunya kek. Juga dalam menggagas setiap pasien yang membawa kerusakan mobilnya, ia cenderung membela pasien, dengan selalu berpikir bagaimana meringankan bebannya. Setiap saran dan perbaikan yang dilakukannya diarahkan untuk penghematan si empunya kendaraan. Saya dong yang celaka. Usaha saya tidak bisa maksimal kemajuannya, tetapi saya juga merasa eman kalau memecat karena sebagai manusia dia sangat menyenangkan, manusiawi dan selalu mampu membuat lingkungan kerja kami menjadi segar."

Alangkah Mengasikkan Kehidupan Ini!
Mungkin itu sebabnya Rasulullah Muhammad meskipun tidak melarang pasar namun wanti-wanti agar memilah-milah betul antara pasar dengan masjid. Kalu sudah cukup lama di pasar, cepatlah masuk masjid, agar selamat kembali sebagai manusia.
Manusia diciptakan sebagai manusia individu dengan dua kosmos: individual dan sosial. Kalau seseorang kehilangan individualitasnya, ia larut menjadi nomer dalam deretan atau kumpulan suatu komunitas. Tapi kalau ia mengintensifkan individualitasnya saja, yang terjadi adalah "individualisme". Lebih menyempit lagi menjadi "egoisme". Menjadi manusia adalah pergulatan untuk menyeimbangkan antara individualitas dan sosialitas.
Si Karyawan itu adalah petugas Allah untuk mengemban "proyek penyeimbangan kemanusiaan" semacam itu.
Dunia usaha, bisnis, berdagang, berniaga, berjual beli, kapitalisasi, adalah salah satu bentuk individualisasi atau egoisasi yang mereduksi keutuhan manusia dan kemanusiaan. Dari kosmos utuh eksistensi manusia, seseorang menyempitkan diri ke dalam kubangan nilai untung rugi, produktif dan konsumtif, dan semua itu dalam perspektif materialisasi dan materialisme.
Bisnis adalah sebuah fungsi sosial, narnun mengacu kepada fungsi ego atau kepentingan sepihak si pelaku dagang. Prosesnya dari "manusia" menjadi "manusia dagang" lantas menjadi hanya "pedagang", manusianya tak berlaku. Di dalam pasar bisnis, segala sesuatu, termasuk rnanusia, Nabi dan Tuhan, hanya berposisi sebagai faktor produksi, sebagai kornoditi, suku cadang, barang jualan, alat produksi, atau apa pun sebutan dan anglenya.
Sedangkan Si Karyawan itu. .hanya "manusia". Ia hanya berhubungan dengan manusia dan apapun dalam kedudukan dan nilai-nilai sebagai manusia. Ia tidak punya bakat untuk mengeksploitir benda, manusia dan peristiwa fang dialaminya untuk orientasi laba pribadi. Ia tidak bisa menjadi kapitalis. Dan luga tidak bisa disebut sebagai "bukan manusia kapitalis", sebab kalau kapitalis itu namanya "belum manusia".
Jadi apakah sebaiknya ia dilemparkan atau dipelihara, tergantung Pak pemilik bengkel dan toko, mau berjalan ke mana dan menjadi apa dalam kehidupan ini. Kalau mau jadi kapitalis dan merencanakan bawa harta benda, riunah, mobil, deposito dan credit card ke dalarn kuburan, cepat-cepat campakkan dia supaya Anda senang dan supaya dia juga bahagia. Tapi kalau Anda mau jadi rnanusia, ia adalah sahabat sejati yang menawarkan penyelamatan kemanusiaan juga kemelaratan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Darah Dagingku Riba

Seorang mahasiswa di Malang, melalui suratnya, menyatakan rasa cemas jangan-jangan yang selama ini ia makan dari orangtuanya yang pedagang itu adalah riba. Bahkan, barang haram. Ia mencoba mengislahnya, memperingatkan orangtuanya, memberontak dan terus mencoba menyatakan sikap.
"Dalam berdagang," tulisnya, "Bapak saya selalu mencampurkan antara barang yang bagus dengan yang jelek, sementara ia memberi harga seolah-olah semuanya adalah barang bagus, dan pembeli tidak diberitahu bahwa barang itu campuran. Jelas dalam hal ini mengandung penipuan.
Sebagai putrinya saya telah berusaha menasehati bapak, juga berdoa kepada Tuhan agar beliau menghentikan kecurangan itu. Tapi bapak terus saja, padahal seluruh makan minum dan biaya hidup saya berasal dari kecurangan ini. Saya jadi merasa bahwa saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, shalat, puasa dan amal-amal saya tidak ada gunanya. Darah daging saya ini riba, haram...."
Memang. Para penjual bensin eceran di kios-kios pinggir jalan saja pun selalu memasang pagpn "Jual Bensin Murni." Padahal orang yang paling bodoh pun bisa mengerti bahwa si penjual tidak mungkin mengebor minyak sendiri dan langsung dijual dalam keadaan murni. Bahwa is harus mengarnbil laba dari bensin yang dibelinva di pom, dan satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh laba adalah dengan mencampurkan minyak tanah.
Penipuan sudah sangat telanjang. Dan adapun pada mekanisme perdagangan yang samar dan bisa ditutupi, yang terjadi mungkin `maha' penipuan. Dan kita semua sudah immun (kebal). Sudah merasa biasa dan normal. Di bawah sadar yang kita bawa sehari-hari dalam berdagang, hal itu 'bukan dosa' lagi.
Sesungguhriya, dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran, atau resonansi.

Kalau istri kita hamil, kita rajin-rajin membisiki perutnya dengan kalimah tahyyibah serta doa-doa yang bijak buat anak kita. Itu artinya kita menciptakan atmosfer batin yang akan merupakan landasan kemakhlukan dan kepribadiannya kelak. Bukankah Allah sendiri memperkenankan dan meminjamkan kesanggupan semacam ini dengan pernyataan melalui RasulNya pahwa para orangtualah yang mernerahkan atau menghijaukan
anak-anaknya?
Maka kita putihkan atau kita kuningkan putra kita tidak hanya melalui gerbang kesadaran akalnya; melainkan juga melalui seribu pintu biologis dan spiritual lainnya. Kita lantunkan doa dan harapan melalui pori-pori kulit istri kita dengan harapan pantulan kun fayakan-Nya akan berlaku bagi anak-anak kita sesuai dengan pemenuhannya atas dambaan kita.
Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, paedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empirik, baru kernudian mendaya-gunakan gelombang spiritual. Jadi mahasiswi kita di Malang itu tak boleh berhenti melakukan ketiga-tiganya.
Rumah yang sehari-harinya diisi oleh suara mengaji firman berbeda getaran dan rasanya dengan rumah yang dididik oleh suara anjing atau musik-musik serba duniawi. Demikian juga apabila di lubang telinga seseorang yang berbuat dosa kita kirimkan vibrasi firman Allah terus-menerus, para Malaikat dengan sendirinya akan bertugas untuk melaksanakan efek logisnya menuju perbaikan.
Di Jakarta saya sering iseng-iseng omong kepada teman-teman bahwa setiap hirupan napas saya di kota metropolitan ini merupakan defisit spiritual-kosmologis. Kenapa?
Kalau di hati seseorang tergetar suatu niat jahat misalnya untuk menipu, merampok atau menyembah kefanaan dunia, maka sel-sel udara yang ia hisap akan berbeda dengan yang ia hembuskan. Udara yang dihembuskannya sudah mengandung muatan gelombang negatif tertentu. Apalagi jika gelombang itu bukan sekadar berupa itikad di dalam hati, tapi telah merupakan perbuatan-perbuatan nyata.
Dan akan lebih parah lagi apabila pekeriaan sehari-hari udara yang dianugerahkan oleh Allah ini diisi oleh sistem-sistem dan mekanisme ketidakadilan, penindasan atau kebobrokan. Maka udara yang kita hisap sangat potensial untuk menularkannya kepada kita melalui muatan-muatannya, getaran dan resonansinya.

Sesudah melewati jarak waktu tertentu, kita akan dengan sendirinya tuning in kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut.
Di manakah ada tersisa tempat yang tidak membuat kita tuning in dosa-dosa, riba-riba, haram-haram?.

Setiap saat orang-orang di sekitar kita berkata: "Mencari uang haram saja susah, apalagi yang halal!"
Allah tidak menuntut kita putih bersih tatkala kita berada di tengah lautan yang kotor kumuh dan busuk aimya. Juga di tengah arus yang kuat, kita tidak dituntut untuk mampu melawannya, sebab untuk tegak bertahan saja pun sudah amat terpuji. Kalau kita shalat ratusan rekaat sehari karena kita adalah anggota masyarakat Negeri Madinah yang baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur di jaman Rasulullah.
Tapi kalau Shalat lima waktu kita bisa lengkap plus wirid sekian jam saja sambil jalan-jalan di tengah peradaban maksiat abad 20, itu sudah luar biasa. Atau uang kita hanya seribu perak, kita nafkahkan sembilan ratus perak: Itu berpahala lebih besar dibanding tetangga yang menafkahkan sepuluh ribu perak dari sepuluh juta perak uangnya.
Kalau burung-burung bisa terbang, itu normal. Tapi kalau tikus melayang-layang di udara, itu luar biasa namanya. Maka mahasiswi kita di kota dingin tak perlu meratap, melainkan mensyukuri upaya-upaya perbaikannya yang tak inengenal kata stop.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 14 Februari 2010

Kontraktor Pembangunan

Seseorang yang beberapa hari lagi hendak dilantik sebagai Walikota, pada suatu malam berkunjung ke rumah kakaknya yang bekerja sebagai penjual barang kelontong di sebuah toko kecil. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta semacam petuah-petuah yang mudah-mudahan berguna bagi tugas-tugasnya sebagai pemimpin tertinggi masyarakat kotanya. Itu bukan hanya karena yang ia datangi adalah kakak kandungnya. Tetapi juga karena lelaki itu adalah calon rakyatnya.
Maka setelah bersilaturrahmi, dikemukakanlah maksudnya yang mulia itu. Dan kakaknya langsung menjawab: “Pokoknya saya sebagai kakakmu ingin mengemukakan satu nasehat saja”.
“Ya Kak”, jawab sang calon Walikota.
“Kalau kamu nanti bertugas sebagai Walikota, saya minta jangan sekali-sekali kamu menyuruh rakyatmu untuk berpartisipasi dalam pembangunan!”
Bagai disambar geledek di siang bolong. Tentu saja. Sang calon Walikota kaget berat. Tidak boleh menyuruh rakyat berpartisipasi dalam pembangunan? Nasehat cap apa ini! Dari mana kakaknya mendapatkan pikiran subversif dan anti-pembangunan macam itu! Partisipasi adalah pasal pertama dalam prinsip operasionalisasi pembangunan. Siapa saja yang menjadi pejabat, dari presiden sampai lurah, setiap hari selalu mengucapkan itu dalam pidato-pidatonya. Bahkan sering diucapkan juga dalam acara-acara pembangunan. Bahkanpun dalam khotbah di rumah-rumah ibadat. Dan lagi prinsip partisipasi rakyat dalam pembangunan itu dilahirkan, dikembangkan dan dibenarkan oleh semua ahli, pakar, teknokrat, birokrat, filosof, negarawan, politisi, seniman, pedagang, serta siapapun saja yang punya semangat dan iktikad membangun bangsa dan negaranya. Setan iblis mana yang merasuki otak kakaknya sehingga ia punya pendapat demikian?

Calon Walikota kita pening kepalanya. Ini ancaman bagi pembangunan. Ini tantangan yang harus diantisipasi dan diwaspadai sejak sekarang. Dan yang paling menyedihkannya, tak lain, adalah karena ancaman pembangunan itu berasal dari kakak kandungnya sendiri.
Namun demikian, sebagai adik yang baik, ia berusaha tidak menampakkan gejolak perasaannya. Dengan tetap sopan dan ramah ia bertanya: “Terima kasih, Mas. Tetapi terus terang saya belum paham benar apa yang Mas maksudkan…”
“Begini!”, jawab kakaknya dengan suara tegas dan keras seperti semula, “kamu pikir walikota itu siapa dan rakyat itu siapa sehingga seorang walikota menyuruh rakyatnya untuk berpartisipasi dalam pembangunan?”
“Bukan menyuruh, Mas, tapi sekedar meminta atau menghimbau…’
“Apapun istilahnya! Pokoknya kamu jangan memiliki sikap dan pandangan yang meletakkan rakyat sebagai partisipator pembangunan!”
“Maksud Mas?”
“Kamu pikir rakyat itu siapa? Rakyat itu Bosmu. Rakyat itu juragan dan pemilik negara ini. Kamu sebagai walikota hanya berposisi sebagai kontraktor pembangunan yang diupah oleh rakyat. Walikota itu buruhnya masyarakat. Walikota dan semua pejabat itu hamba sahaya. Walikota dan keluarganya bisa makan karena dibayar oleh rakyat. Yang punya negara itu rakyat. Yang punya segala kekayaan bumi negeri ini rakyat. Yang punya uang pajak dan semua devisa negera ini rakyat. Pokoknya kalian para pejabat itu jongosnya rakyat. Tapi jangan kuatir, rakyat itu juragan yang baik. Tidak pernah ada rakyat yang memperbudak jongos-jongosnya. Malahan yang banyak adalah jongos-jongos yang memperbudak rakyat, padahal rakyat sesungguhnya adalah juragan mereka!”
Tubuh calon walikota kita itu menjadi dingin panas. Semakin ia tahu bahwa kakaknya bersungguh-sungguh dan memiliki landasan dan argumentasi dalam mengemukakan pandapatnya. Wajahnya menunduk dalam-dalam.
“Sebagai kakakmu”, lanjut kakaknya, “saya harus berterus terang bahwa banyak sekali, bahkan rata-rata, para pejabat pendahulumu yang salah sangka terhadap rakyat dan terhadap dirinya sendiri. Mereka menyangka bahwa mereka adalah atasan rakyat, sementara rakyat mereka kira adalah bawahan mereka. Di hati dan pikiran, mereka merasa besar dan menganggap rakyat itu kecil. Mereka merasa tinggi dan rakyat itu rendah. Maka mereka merasa sah dan merasa tidak berdosa kalau mereka memaksakan kehendak mereka atas rakyat. Mereka membuat peraturan untuk mengatur rakyat, karena mereka merasa bahwa merekalah yang berhak membuat peraturan dan rakyat hanya punya kewajiban untuk mentaatinya. Di mana ada cerita bahwa hamba sahaya membuat peraturan yang diberlakukan untuk juragannya? Memang betul bahwa pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat telah diberi mandat untuk membuat peraturan-peraturan. Tetapi hak atas segala tatanan dan aturan tetaplah di tangan rakyat. Maka segala sesuatunya harus didasarkan pada kepentingan rakyat. Kalau rakyat tidak setuju, itu berarti Bos tidak setuju. Hamba sahaya harus punya telinga yang selebar mungkin untuk mendengarkan apa kata juragannya. Jangan suruh rakyat berpartisipasi dalam pembangunan, sebab merekalah pemilik pembangunan, sehingga dengan sendirinya mereka adalah subyek utama pembangunan. Jangan kok kalau juragan menegur, memprotes, berunjuk rasa, lantas si hamba sahaya malah menuduh juragannya sebagai pengacau keamanan, melawan pembangunan, pemberontak, subversi, atau segala macam tuduhan yang aneh-aneh itu.
Ingat ya! Ingat, kamu ini sebagai walikota adalah hamba sahaya….”
Calon walikota kita itu akhirnya sungguh-sungguh menggigil tubuhnya dan nerembes airmatanya. ***

Emha Ainun Nadjib
(Harian SURYA/2004/PadhangmBulanNet)

Demokrasi dalam Islam

Semua bisa salah. Doktor bisa salah, cendekiawan bisa salah, politik pun bisa salah, mahasiswa juga sering salah. Apalagi pemerintah, sangat banyak membuat salah. Maka jika semua yang saya sampaikan ini salah karena saya manusia, namun jika benar hanya dari Allah Swt.

Hampir setiap hari kita mendengar analisa, ungkapan, kesimpulan, persepsi-persepsi dari ilmuwan, cendekiawan tentang Islam. Dari pembicaraan-pembicaraan itu selalu terkesan bahwa Islam itu tidak mengenal demokrasi. Tidak hanya umat Islamnya, tetapi seolah-olah Islamnya juga tidak mengenal demokrasi. Mereka dianggap sangat terbelakang, ganas, sutka mengamuk, dan tidak demokratis, egois dii. Saya sebagai umat Islam itu merasa begitu kampungan karena tak mengenal demokrasi. Padahal demokrasi di dalam Islam sesungguhnya hanya sepetak nilai dari nilai Al Qur'an yang sudah diturunkan. Di dalam Al Qur'an, jangankan demokrasi dalam konteks negara demokrasi dalam konteks alam seluruhnya juga terkandung. Demokrasi ala Yunani itu kan hanya bagaimana penduduk atau rakyat bermusyawarah menentukan X dan Y di dalarn proses bemegara. Ini sangat terbatas. Tetapi, demokrasi di dalam Islam bukan hanya demokrasi yang dikenal manusia, tetapi jin, setan, dan makhluk goib
lainnya kenal dan diberi hanya masing-masing, sesuai dengan porsinya.
Bagaimana sesungguhnya hubungan demokrasi dengan Islam dalam level konsepsionaI atau filosofi? Kalau berbicara masalah itu perlu dipisahkan dengan pembicaraan tentang demokrasi dan umat Islam itu sendiri dipandang dari sudut sosiologis historis. Artinya, jangan sampai kita menjadi orang Islam yang capai-capai belajar ke mana-mana namun masih tetap inferior. Seolah-olah kita adalah orang yang sangat ketinggalan zaman dan agama kita temyata adalah agama primitif. Sehingga kita merasa segan kalau harus belajar demokrasi karena kita tidak pernah merasa memiliki. Maka seluruh makalah dan desertasi kita mencerminkan inferioritas primitif yang semacam itu. Nah, saya harapkan hal ini tidak akan terjadi lagi.

Misalnya seperti yang diungkapkan oleh Gus Dur (panggilan. akrab Abdurrahman Wahid) tentang definisi Demokrasi. Sayang, Gus Dur terlalu mudah menuduh orang lain sektarian, primordial, dan tidak demokratis. Misalkan kita memakai jilbab yang mengandung Arab itu, bisa jadi itu primordial. Seperti Gus Dur menganggap semua hal yang berbau Arab adalah primordial dan sektarian. Hanya sesuatu yang berasal dari negara Barat itulah barangkali yang dianggap Gus Dur universal.
Cara berfikir seperti itu akan membuat otak kita tidak bisa adil menatap paham-paham atau kriteria-kriteria yang jernih tentang apa yang sesungguhnya disebut sebagai sektarianisme atau primordialisme itu. Sebab jilbab yang disebut sebagai sektarian itu memiliki keabsahannya sensementara rok mini juga memiliki keabsahannya sendiri dilihat dari sistem nilainya. Kalau memang kita berpikir secara demokratis. Jika cara kita berfikir seperti itu baru sah disebut primordial.

Apa yang dimaksud primordial bisa dikatakan merupakan penyeragaman, itu kalau memakai cara berpikir ala Gus Dur. Cuma cara berpikir seperti itu sistemnya persis seperti dipesan dari Eropa atau Amerika. Padahal pakai rok mini ala Eropa Amerika itu primordial sekali. Mudah-mudahan apa yang saya utarakan ini dapat membuat kita berpikir lebih jernih. Hal ini sangat terkait dengan posisi dan kondisi umat Islam terhadap tuntutan demokrasi. Kalau umat Islam tidak boleh menampilkan diri sesuai dengan citranya dan harus taat serta takut pada simbol-simbol budaya milik orang lain, secara psikologis membuat kita tidak memiliki kepercayaan diri. Gus Dur itu setiap hari pakai baju batik. Bukankah batik itu sangat primordial sekali? Ee, nggak kroso (enggak mau tahu diri). Mendingan saya pakai baju putih dan celana hitam, sebab ini universal semua orang merasa memiliki. Saya bicara begin bukan berarti ngedumel, ngrasani, ngomong di belakang terhadap Gus Dur, itu memang
pada tempatnya. Tidak apa-apa. Sebab saya satu-satunya orang Indonesia yang berani mengejek Gus Dur. ini alasan historis.

Barangkali dari peristiwa tersebut, kita telah menemukan sate soal tentang psikologisme melalui penyebaran cara berpikir yang tidak adil. Dan itu sayangnya sangat mempengaruhi cara berpikir kita. Saya pribadi secara ernpirik sangat mengalami kerugian karena peristiwa semacam itu. Misalnya, saya disuruh masyarakat untuk membuat teater. Ideologis saya adalah teater rakvat. Artinya, teater yang dasarnya udnguilasabili robbikaa bil hikmah wal maui idhotil khasanah. Wajadilhum billati hiya akhsan (berangkatlah kamu dalam keadaan berat atau ringan di jalan Tuhan-Mu untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah. Demikian itu lebih balk jika kamu mengerti).

Kalau kita berkomunikasi dengan menggunakan bahasa komunikan, yaitu bahasa orang yang kita ajak ngomong. Kalau kita membuat teater, maka idiom-idiom teater yang saya pakai hams idiom-idiom yang tepat pada audiensnya. Kalau saya berhadapan dengan umat Islam, maka saya bikin drama Islam, misalnya Lautan Jilbab, tetapi apa yang terjadi setelah pementasan beberapa kali, saya dianggap primordial. Jadi, mereka hanya melihat kulitnya. Sebenarnya idiom-idiom budaya yang saya pakai hanya sekedar kendaraan menuju substansinya. Substansinya dari salah satu drama-drama saya adalah pendidikan politik. Dan sepengetahuan saya belum pemah ada drama kritik sosial yang se-eksplisit dan sekeras Lautan Jilbab, yang terakhir dipentaskan di Surabaya dan mendapat pujian Pangdam Jawa Timur, namun dicekal di Java Tengah. Drama kami menyesuaikan dengan audiensnya. Nah, dengan demikian, Gus Dur jangan terlalu mudah menuduh primordial pada Lautan Jilbab. Kalau Gus Dur menuduh
begitu, maka yang maha primordial adalah pemikiran-pemikiran, persepsipersepsi, dan teori Gus Dur sendiri.

Lantas apa kandungan dalam Islam jika dikaitkan dengan demokrasi. Menurut saya, kita ini semacam Tarzan. Tarzan itu hidup di hutan tak mengenal teknologi maupun kemajuan jaman. Artinya, begitu kita bicara demokrasi, seolah-olah Islam itu tidak memiliki kandungan demokrasi. Kita kenal nasi itu berasal dari Indonesia. Tapi, beras itu ada di mana-mana. Dan demokrasi itu sekedar berposisi seperti nasi. Tapi jangan lupa dengan berasnya, benihnya, dan sawahnya ada di mana-mana. Apalagi di dalam Islam. Jadi sekali lagi saya tidak percaya bahwa seolah-olah Islam itu sesuatu yang tersendiri dan demokrasi itu sesuatu yang lain. Bagi saya, demokrasi itu nasi. Artinya, Islam itu mengandung beras dan nasi. Bahwa kemudian beras dan nasi itu diolah secara psikologis dalam dekade tertentu di Eropa, Amerika, dan lain-lairmya, itu benar. Namun, tidak lantas kalau Islam mengenal demokrasi berarti adopsi. Sama sekali tidak mengadopsi lihat saja Surat al-Haj ayat 4, Al-Hasyr
ayat 18-24, yang mengandung tatanan Asmaul Husna, dan demokrasi.
Tidak ada keadaan yang menyedihkan dibanding keadaan umat Islam dewasa ini, meskipun sekarang ini kita seolah-olah mengalami kondisi yang dikatakan kebangkitan. Kondisi yang namanya Islam itu ditutupi orang Islam itu sendiri.
Saat ini kita berada pada titik kulminasi.

Yogya, Rablutsani 1412 H
(Emha Ainun Nadjib/ "Nasionalisme Muhammad" - Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)