Minggu, 26 Juli 2009

MAIYAH PERAMPOK

Mau ke mana kamu
Kiri kanan tembok
Ke belakang ada jurang
Ke depan dikejar hutang

Pergi ke masa depan yang mana kamu
Perjalananmu dipimpin perampok
Di depan sana kamu ditunggu berbagai kelompok
Yang masing-masing siap menjadi perampok

Kamu dihadang oleh daftar kesengsaraan baru
Orang yang mewakilimu menjualmu
Orang yang kamu percaya mengkhianati cintamu
Karena kamu tak mau belajar apa yang sebenarnya kamu tunggu

Perampok-perampok bergilir memperkosamu
Janji mereka kamu bayar dengan darah bahkan mautmu
Kemudian tetap kamu junjung-junjung di pundakmu
Bahkan terus saja kamu bersujud bersimpuh dengan dungu

Perampok-perampok berbaju malaikat
Perampok-perampok berludah ayat-ayat
Perampok-perampok mencuri jubah kebesaran Tuhan
Yang lain berbaris jadi pengemis dan pekatik

Perampok-perampok berwajah demokrasi
Berkaki kepentingan, bertangan keserakahan
Perampok-perampok mengelus rambutmu dengan cinta
Kemudian menikam punggungmu dengan dengki dan santet

Delapan tahun silam kubilang perahu sudah retak
Lima tahun kemudian kelasi diganti
Perahu retak perahu oleng perahu bocor
Dan setiap kelasi yang baru berlomba menambah bocoran-bocoran

Politik hanya kepentingan
Demokrasi adalah persepsi atas dasar kebencian
Pemilu adalah perebutan buah kuldi
Yang memelorotkan derajat Adam dari sorga ke kehinaan dunia

Mau ke mana kamu
Berpikir untuk juga menjadi perampok
Mengacau negeri ini agar secepatnya membusuk
Atau menguasainya, atau meninggalkannya

Mau ke mana kamu
Di mana gerangan harapan kini bersemayam
Kalau yang sesungguhnya engkau lawan
Adalah kotoran di dalam dirimu sendiri

Tokoh-tokoh yang kau benci
Sebenarnya mainstream dari arus napsumu sendiri
Sementara tokoh-tokoh yang engkau cintai
Kamu perbudak agar membukakan lapangan kerakusanmu

Jadi, berhati-hatilah, jangan percaya kepadaku
Waspadalah kepada setiap yang kukatakan kepadamu
Tak semua diriku bisa kuperkenalkan melalui kata-kata
Sebab beo, komputer dan tape recorder pun gampang membohongimu

Kuajak kamu melingkar, bernyanyi,
Menata hati, menjernihkan pikiran
Belajar dewasa dalam perbedaan
Belajar arif dalam lingkaran keberagaman

Berlatih memohon agar Tuhan menjadi penghuni utama hati
Menjadikan seluruh rakyat sebagai subyek utama dari fungsi akal
Latihan bergembira, latihan tenteram, latihan tak berputus asa
Kita bangun negeri akal, negeri orang dewasa, negeri nurani

Menemukan Indonesia yang sejati
Dan jika yang bernama Indonesia ini tak menerimanya
Tetap cintailah ia. Buka hati dan kesabaranmu
Untuk memaafkannya dan mendengarkan keluhannya

Jogja 17 Juli 2002
(Emha Ainun Nadjib/"Mocopat Syafaat 17 Juli 2002"/PadhangmBulanNetDok)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar