Kamis, 23 Juni 2011

'Membeli Fitnah'

Benarkah ada sanak saudaramu yang harus berkorban sedemikian bear, sampai pun nyawanya, demi keserakahan sejumlah orang yang bahkan tak dikenalnya terhadap sekati upah?
Benarkah anggota keluarga Anda harus membayar sebegitu mahal kepada pentas primordialisme yang sempit? Demi fanatisme dan taqlid yang sebuta-butanya. Atau bahkan demi pertarungan yang hanya berisi kebodohan, nafsu dan emosi yang tidak jernih arahnya, serta ketidakpahaman dan ketergesaan.
Maka kecemasan yang saya alami tidak hanya terhadap kemungkinan chaos yang heboh, tapi juga terhadap kebebalan yang 'tenang'.
Diam-diam, sesungguhnya, jauh di lubuk jiwa saya terdapat juga rasa asyik menyaksikan atau mengalami benturan dan peperangan. Tapi untuk apa dulu? Bersediakah anda mengalami itu semua untuk suatu kesibukan nasional satu bulan yang pada hakekat dan kenyataannya tidak ada keterkaitan yang realistis dengan perjuangan nasib Anda sendiri sebagai rakyat kecl?
Bertamulah ke rumah orang-orang pandai. Para dosen, pastur atau kiai. Bertanyalah kepadanya apakah gegap gempita yang sedang kita selenggarakan hari-hari ini memiliki prospek yang nyata terhadap impian perubahan yang sesungguhnya, yang nasib struktural rakyat bergantung padanya?
Maka bergembiralah dengan semua pesta itu, namun dengan sanggup melakukan pengaturan takaran. Pacing. Bukan menyediakan pasak yang jauh lebih besar dibanding tiang rapuh yang tersedia sekarang ini.
Ada anak-anak muda 'minta izin' ----anehnya –kepada saya. “Cak, biar deh saya dipenjara, asalkan puas hati ini. Ayolah kapan kita serbu dan baka..!”
Tentu saja saya masih bisa tidak gila untuk memberikan jawaban yang tepat terhadap desakan emosi kerakyatan –yang sesungguhnya saya mafhum benar latar belakangnya. Semangatnya pernuh enerji 'jihad', tapi belum ada titik koordinat yang menyilangkan petemuan antara konteks atau tema dengan momentum yang tepat.
Kalau boleh, naluri seperti itu hendaklah 'dipenjarakan' bis-shabri was-shalâh—sampai ada konteks dan sâ'ah sejarah dimana gumpalan tenaga semacam itu kita perlukan.
Jiwa kekanak-kanakan saya juga punya semacam rasa senang terhadap letusan² kecil atau besar, dengan tema apapun. Tapi yang disebut 'agama' adalah kesanggupan mental dan akal budi untuk tidak menggerakkan kaki kehidupan ini berdasarkan apa yang kita sukai, melainkan berdasarkan apa yang wajib dan benar menutur Alloh.
Saya mohon maaf untuk mengatakan hal seperti ini. Bahkan terhadap fitnah² besar dalam hidup saya, insyaAlloh saya bukan hanya tak bersedia meladeni atau mengeluarkan enerji sedikitpun –melainkan, kalau perlu, saya bersedia membeli fitnah² itu. Saya bersedia membayar orang² yang memfitnah saya, demi ma'unah, fadhilah dan karomah.
Maka kalau saya merasa cemas, insyaAlloh kecemasan yang saya maksudkan bukanlah situasi mental, melainkan manifestasi dari kesadaran akan pengetahuan dan kewajiban hidup.
Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri sebenarnya seberapa besar kadar keprihatinan dan kecemasan Anda terhadap tingkat kemunkaran politik, hukum dan ekonomi di sekitar kita. Seberapa besar pulakah kecemasan Anda terhadap kenyataan betapa orang² justru tidak cemas terhadap itu semua? Seberapa cemaskah Anda terhadap ketidakpedulian kita semua atas seberapa jauh bangsa ini mengalami 'defisit nilai' demokras, moral, keberbudayaan dan keberadaban. Dalam bentuknya yang kasar dan transparan, maupun yang halus, canggih dan kita sangka kebaikan dan ketentraman?

Partai Mashriq Partai Maghrib Partai Japemethe

Manusia sangat punya kesenangan untuk bertengkar dan berpecah-belah satu sama lainnya.
Manusia sangat suka membela golongannya sendiri, partainya sendiri, alirannya sendiri, kepentingannya sendiri.
Pembelaan atas golongannya sendiri itu bisa berpijak pada keyakinan atas kebenaran golongannya atau atas pilihan ideologi kelompoknya atau yang banyak adalah karena digolongannya itu terletak mata pencahariannya, terletak pemenuhan atas kepentingan karier dan keuntungan² pribadi lainnya.
Diantara yang berkecenderungan terakhir itu ada yang karena keterpaksaan sebab tidak ada pilihan lain kecuali loyalitas tunggal, atau ada yang karena selalu merasa tidak cukup, alias karena keserakahan.
Manusia sangat hobi makan 'ananiyah' : Keakuan, kekamian, egoisme, egosentrisme.
Tidak hanya manusia² pemalu saja yang begini. Para manusia tokoh dan kelas pemimpin pun rata² begini. Ini wataknya.
Manusia mengkotakkan dirinya kalau tidakdi PPP ya di Golkar atau PDI.
Manusia mengurung dirinya kalau tidak di Syiah y di Sunni. Di Pekalongan atau di Bangil dan Jakarta kedua golongan ini sedang asyik²nya bertengkar, sampai sesekali hampir ke pergulatan fisik.
Manusia memborgol hidupnya kalau tidak di Muhammadiyah ya di NU, atau ICMI, KAHMI, HMI, PMII, kelompok diskusi ini dan itu yang anggotanya 10 orang namun terpecah menjadi 15 bagian.
Manusia membatasi dirinya untuk ikut jalan tolnya Mbak Tutut dan Hartono atau naik pesawatnya Habibie dan Ginanjar, atau berpuluh-puluh lokomotif dan gerbong lain yang sewaktu-waktu bisa dilangsir dan diganti-ganti gandengannya.
Manusia bergaul satu sama lain dan punya kesukaan untuk meng-klaim, “Khuwi japemethe.” “Kae bocahe dhewe.” Itu orang kita.” “Itu anak buah saya.” “Gali yang itu rekan saya, awas kamu jangan berani-beraninya sama saya.”
Manusia penghuni partai masyariqatau partai maghrib. Aliran Barat atau Timur. Dan pada saat yang bersamaan mereka masing-masing sesumbar tentang kemerdekaan, kebebasan, hak asasi manusia.
Manusia sungguh-sungguh memiliki potensi yang besar untuk bodoh dan munafik.

-8 Oktober 1997-

Senin, 24 Mei 2010

Suluk Tuhu Linglung (4)

Syari'at itulah tirai
Karena ruh idhafi-lah yang hakiki.
Syahadat, shalawat,
Nabi dan wali, dalam tauhid
Ditaburi
Oleh tirai.
Ma'dum, ma'lum, tasbih,
Tahlil dan shalawat
Dijadikan tirai yang menutupi.

("Suluk Pesisiran Kode LOr 7375, Puitisasi Emha Ainun Nadjib", Mizan, 1995, PadhangmBulanNetDok)

SULUK TUHU LINGLUNG (3)

Tuhu Linglung 3

Sepedati penuh kertasnya
Tiada lain yang diperbincangkan
Kenapa sedemikian sesat
Memeluk titipan tanpa sisa
Terlena karena dipercaya
Padahal itu tak benar-benar disadarinya
Nabi, wali, mukmin, sirna
Hancur, lebur, luluh, musnah, hilang
Namun tak dicapainya kekosongan.

("Suluk Pesisiran Kode LOr 7375, Puitisasi Emha Ainun Nadjib", Mizan, 1995, PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 16 Mei 2010

Tuhu Linglung (2)

Tuhu Linglung 2

Terlebih yang belum yakin benar ia
Terbelenggu hanya oleh tata krama
Sembahyang sunnah dan fardhu tak putus-putusnya
Agar tertabiri ketidaktahuannya
Puasa dan sedekah
Juga zakat fitrah-nya
Dijadikan berhala yang dipuja-puja
Sungguh mereka yang sedemikian terlena
Belum seberapa baktinya
Pengetahuannya masih biasa-biasa saja.

SULUK TUHU LINGLUNG (1)

Dhandhang
Karya Sunan Panggung

Tuhu Linglung 1

Merasuki sastra
Sungguh bisa bikin bingung
Yang diolah senantiasa gagasan
Ilmu diuraikan
Lafal dihitung-hitung
Benar salah dipersoalkan.
Maka bukanlah tanda orang berpengetahuan
Jika terpana hanya dalam laku
Merasa malu untuk mengulang bertanya
Seakan telah ia temukan segala
Padahal belum apa-apa.

("Suluk Pesisiran Kode LOr 7375, Puitisasi Emha Ainun Nadjib", Mizan, 1995, PadhangmBulanNetDok)

Rabu, 28 April 2010

Bersalaman dengan Gadis Gila

Hari ini saya menerima surat dari sebuah kota pesisir utara Jawa yang berisi permohonan maaf kepada saya. Tentu saja saya membalasnya dengan kata-kata: "Saya tidak berhak memberi maaf kepada Anda, sebab menurut pengetahuan saya Anda bersalah tidak kepada saya, melainkan kepada Tuhan, kepada gadis gila itu dan kepada diri Anda sendiri."
Meminta maaf kepada diri sendiri bisa ditempuh dengan penginsafan hati dan pembenahan cara berfikir. Memohon ampun kepada Allah bisa dijalankan dengan cara bersujud, shalat sebanyak-banyaknya, kalau perlu puasa dan menyampaikan qurban sebagai semacam ruwatan atau pembersihan diri. Tetapi bagaimana caranya meminta maaf kepada seorang yang dirahmati oleh Allah dengan kegilaan?
Ceritanya, beberapa minggu yang lalu datang ke rumah kontrakan saya tamu-tamu muda anggota suatu kelompok Tarikat. Pakaian mereka necis, rambut klimis, gerak-gerik mereka memenuhi segala konsep kesopanan, dan cahaya wajah mereka bagaikan memancarkan sima'hum fi wujuhihim min atsaris-sujud: ada tanda-tanda bersinar di wajahnya, jejak sujud-sujud rnereka kepada-Nya.
Ada banyak problem dan kepusingan yang sedang menimpa saya seperti juga tiap hari terjadi, tetapi kalau menerima tamu-tamu penuh kemuliaan seperti ini tidak ada lain yang terasa kecuali ketenteraman dan keteduhan.
Ini anak-anak Tariqah! Bayangkanlah. Hampir semua anak muda memperlombakan hedonisme, hura-hura dan menyembah segala jenis materialisasi manusia, tapi anak-anak muda ini tak perlu menanti saat sekarat untuk memilih keabadian ruhani.
Tiba-tiba nongol Si Inur, wanita tamatan SMTA yang oleh semua orang kampung ternpat tinggal saya dianggap sampah karena sinting sesudah ditinggal pacarnya kawin dulu. Lebih dua puluh kali sehari ia datarg dan kami mengobrol. Mungkin karena di rumah saya ia menemukan teman-teman sejawat dan senasib, sehingga bersedia menerimanya dan ngowongke.
Maka saya panggil Si Inur, saya ajak untuk bersalaman dan berkenalan dengan tamu-tamu terhormat saya. Senyum-senyum ia datang sambil satu tangannya mempermainkan helai-helai rambut. Ia menyodorkan tangannya dengan ramah, dan rnendadak saya saksikan tamu-tamu saya kaget, gelagapan dan salah tingkah. Semuanya tidak bersedia menerima uluran tangan Si Inur dan hanya berkata disopan-sopankan: "Sudah, sudah... terima kasih, terima kasih!"
Tahukan Anda bahwa saya sendiri tidak menyangka betapa saya mendadak marah menyaksikan hal itu? Bukan hanya marah, tapi juga meledak-ledak dengan kata-kata amat keras dan terus terang.
Saya amat sangat tersinggung karena tamu-tarnu saya menolak keramahan seorang hamba Allah. Apalagi hamba Allah yang ini berangkat ke alam gila dengan membawa penderitaan hati karena dikhianati cintanya. Sedangkan Allah pun murka kalau kita khianati cinta-Nya!
Apakah tamu-tamu saya ini merasa yakin akan masuk surga dan Si Inur pasti masuk neraka, sehingga tak punya kehormatan setitik pun untuk diterima uluran tangannya? Sedangkan gadis ini sejak beberapa tahun yang lalu telah selamat hidupnya karena segala perbuatannya akan tidak dikalkulasi oleh Allah berkat kegilaannya, sementara tamu-tamu ini rnasih menapakkan kakinya di jalanan licin penuh lumpur dosa-dosa?
Ataukah mereka jijik bila tangannya yang bersih dan wangi harus bersentuhan dengan tangan kumuh kotor si gila? Ahli tarikat anak-anak muda ini, ataukah priyagung-priyagung yang feodal dan suka merendahkan orang kecil?
0, mungkin mereka keberatan salaman karena Si Inur itu wanita yang bukan muhrimnya. Lebih berat manakah takaran antara pahala tidak menyentuh tangan wanita dibanding dosa tidak memelihara bebrayan sosial? Apakah gadis gila ini bagi para ahli tarikat masih seorang wanita? Tinggi benar naluri seksnya!

(Harian SURYA, Senin 7 Desember 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Para Patriot (4)

Anak kita yang lain dari Jl. Kartini, Babad, juga memerlukan bantuan biaya untuk sekolah, sambil mengutip Surat at-Taubah 103 rnengenai "mensucikan harta" dengan cara menyedekahkan.
Sambil mengingatkan agar tak usah "menodong" dengan ayat, saya tetap imbaukan kepada calon Bapak atau Ibu Penyantun. Termasuk buat anak kita yang lain, siswa Aliyah di Guluk-Guluk (Luk-Guluk), Sumenep, Madura, yang orang tuanya megap-megap karena kapital teri tembakaunya semakin tak bisa diandalkan "Pekerjaan saya dan keluarga adalah bercocok tanam," katanya, "Cak Nun, apakah zaman sekarang ini memang bukan zamannya kaum tani? Apakah ini yang disebut Gelombang Industri dan Gelombang
Teknologi Informasi, di mana Gelombang Agraris sudah lewat, sehingga kami tak punya prospek hidup?"
Jembatan Madura-Surabaya baru akan dibangun, memang. Artinya, dari Madura yang masa silam" baru akan ada jembatan ke masa depan" itu akan juga sangat menggelisahkan. Belum tentu Madura akan menyerap, salah-salah malah hanya akan diserap.
Tapi memang pembangunan yang sedang gencar kita selenggarakan ini fokusnya adalah pertanian, belum tentu petani.
Ada juga anak kita yang lain yang lebih tua, yang kasus hidupnya relatif sama dengan yang barusan kita bicarakan. Seorang mahasisva Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah: keluarganya pontang-panting menutupi biaya kuliahnya. Empat kali cocok tanam: tembakau gagal terus. Padahal sekarang ini diperlukan setidaknya setengah juta rupiah untuk kuliah dan beli buku-buku wajib.
Kok lembaga pendidikan banyak memproduk problem, sih? Tampaknya Indonesia belum makmur, jadi belum bisa menggratiskan sekolah. Atau sudah makmur, tapi belum adil, belum ada just economic sharing.

Pendistribusian keadilan itu kalau tak bisa ditempuh melalui sistem sosial ekonomi yang berlaku, tak bisa melalui Majelis Ulama atau Dinas Sosial -- yang cobalah melalui kearifan sosial di hatinurani hamba-hamba Allah tersebut.
Saya yakin di antara Anda ada yang dipanggil oleh Allah, misalnya, untuk membapak-asuhi puluhan, bahkan anak-anak kecil SD-SMP yang hidup mereka beserta keluarga mereka sangat terbengkalai di bukit kering kerontang tepian Waduk Kedungombo, Jawa tengah.
Kalau sekolah mereka berjalan kaki beberapa kilometer menapaki bukit-bukit, kemudian naik Akudes. Kalau tak ada uang seratus rupiah saja pada suatu pagi, mereka tak bisa sekolah. Jangan bayangkan mereka punya realitas sosial yang memungkinkan mereka kelak bisa meneruskan sekolah. Menamatkan SD saja sudah slametan rasanya. Menurut Anda, apakah Allah lebih sering "berada" di tempat sepi, terasing dan amat jauh dari kesejahteraan itu; ataukah Allah lebih suka rnenemani kita di sini? Betapa indahnya kalau kita mengambil dan mengantarkan mereka ke hari depan! Sebab betapa indahnya pula tangan-tangan mungil mereka mengantarkan kita kepada cinta kasih Allah.
Tentu saja tidak harus mengambil mereka atau salah seorang dari mereka ke rumah kita dan menjadi anak angkat. Bisa cukup dengan membiayai sekolah salah seorang dari mereka sekarang. Atau mengambilnya dan mengirimkannya ke Pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Atau, sangat mungkin juga sesekali dolan ke pinggiran waduk raksasa yang sangat bermanfaat buat orang-orang kota itu: bawa beras, ketan, baju, tikar untuk "masjid alamiah" mereka. Dan yang terpenting bawa: cinta dan senyuman.

(Harian SURYA, Senin 22 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kampung Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Senin, 19 April 2010

Para Patriot (3)

Anak kita, seorang pelajar SIvIA yang tinggal di Jalan. P. Sentik, Tanah Grogot, Kalimantan Timur, berkirim surat meminta sebuah mesin ketik. "Itu sangat berarti bagi saya, untuk mengembangkan bidang tulis menulis untuk dimuat di media massa," katanya.

Ini salah satu contoh dari banyak anak-anak kita yang bersurat ke rubrik ini, yang memandang kehidupan ini sedemikian sederhana dan penuh jalan pintas. Bekerja sebagai penulis sedemikian gampangnya: ada mesin ketik, menulis, lantas dimuat di media massa. Padahal jarak antara mesin ketik dengan menulis itu bukan main lebar dan ruwetnya. Apalagi jarak antara tulisan dengan pemuatan di media massa.
Tentu saja akan sangat mengharukan kalau lantas ada yang bermurah hati mengiriminya mesin ketik. Tetapi harus kita ingatkan bahwa itu belum tentu merupakan 'jalan keluar' bagi sukses menjadi seorang penulis.
Juga pastilah siapa saja yang beritikad untuk menolong, ia berhak dan memang lebih afdhal apabila terlebih dahulu bersilaturahmi, berkorespondensi atau syukur berdialog langsung dengan orang yang ingin ditolongnya demi agar ia memperoleh pengetahuan dan kepercayaan yang lebih pasti tentang yang akan ditolongnya.
Saya sendiri belajar menulis di Yogya awal era 1970-an dengan banyak teman. Kami tidak pernah berpikir teknis: ada kertas atau tidak, ada mesin ketik atau tidak. Itu soal gampang. Bisa nunut sesekali, atau ditulis tangan. Sebab yang 'bergemuruh' dalam diri seseorang yang berjuang belajar menulis adalah soal-soal yang kualitatif: bagaimana menghayati kehidupan merenungi masalah-masalah, peka terhadap nilai-nilai, kerja keras dengan otak, akal budi, perasaan dan hatinurani.
Soal kertas dan mesin ketik, itu masalah teknis yang amat gampang diatasi. Bisa numpang tetangga, atau di Kantor Kelurahan, dan Insya Allah tanpa harus menyodorkan Sertiikat Lulus Penataran P-4. Tetangga dan Pak Lurah pasti senang ada warganya yang belajar kreatif, sebab mereka mestinya bukan orang sakit jiwa.
Pesan pribadi saya kepada para calon penulis atau patriot pemburu masa depan: berapa jam kerjamu dalam sehari-hari? Saya sudah tua, dan justru karena itu saya tidur setelah subuh, kemudian pukul 08.00 pagi sudah siap 'perang' lagi. Seandainya saya ini boleh diangap penulis yang sudah 'jadi', modal saya ada tiga:
- Pertama, anugerah Allah.
- Kedua, belajar dan bekerja keras.
- Ketiga, keikhlasan doa Ibu saya dan Anda semua.
Apa yang harus kita perjuangkan terutama qdalah etos kerja, kesediaan untuk bekerja keras dan 'kejam' kepada diri sendiri. Bukan memimpikan fasilitas. Salah satu wujud kreatiitas adalah 'kesanggupan bekerja maksimal dalam kondisi dan fasilitas yang minimal.'
Tapi anak-anak sekarang baru mau bekerja kalau jelas gajinya. baru mau melakukan sesuatu kalau lengkap fasilitasnya dan ada jaminan hasil. Mereka tidak bisa menjadi pejuang bahkan bagi dirinya sendiri, sebab tidak ada perjuangan yang titik tujuan atau hasilnya bisa dipastikan.
Kalau mereka disuruh masuk hutan, mereka memastikan dulu apakah di dalamnya ada buah yang dicarinya, ada macan atau ular yang rnengancam atau tidak. Bahkan mungkin mereka riset dulu berapa luas hutan, jenis tanahnya, atau ada warung atau tidak, ada pentas dangdut dan metal atau tidak. Kalau sudah jelas semuanya, baru mereka melangkahkan kaki masuk hutan.

(Harian SURYA, Senin 15 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Rabu, 07 April 2010

Para Patriot (2)

Seorang pendeta di Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang saya pernah bersenda gurau dengannya semalam-malaman, menginginkan anggotanya dalam organisasi pengembangan masyarakat ke Pulau Flores yang ditimpa bencana, untuk melihat apa-apa yang mereka bantu.
Memang ada beribu hal yang diperlukan oleh penduduk pulau malang itu dan setiap orang, setiap kelompok atau institusi, menjajaki tingkat kesanggupannya untuk menolong. Salah seorang anggota yang dikirim itu, sesudah melihat lapangan, mengajukan proposal kepada Pak Pendeta: Butuh biaya kurang lebih satu juta rupiah untuk perbaikan dua mushalla yang legrek (rusak berat) oleh gempa.
Ibarat kalau ada orang kejet-kejet ditabrak truk, segera saja Anda lari menolongnya, tak usah dulu tanya kepada korban apa agamanya, apa madzabnya, apa alirannya dan apa proposalnya. Dan Pak Pendeta ini dengan senang hati bersurat melanjutkan keperluan perbaikan tempat ibadat itu. "Tapi terus terang saya agak takut-takut inisiatif saya ini tidak didukung oleh kalangan Kristen, serta dicurigai oleh kalangan Islam," katanya.
Saya katakan kepada beliau: "Itu memang sangat pantas dicurigai. Bahkan kalau karni bersembahyang di masjid, saya terkadang juga curiga apakah orang di sebelah saya sungguh-sungguh salat kepada Allah jiwa raganya, hatinya, perasaannya, cintanya, hidup matinya. Jadi keputusan dan sikap saya adalah: teruslah, salat! Allahlah satu-satunya Hakim Maha, lembut-Tajam-Adil."
Maka imbauannya dan panggilan amal ini pun saya tulis.
***

Adik dari Poto'an Daya, Palenggaan, Pamekasan, Madura, karena situasi ekonomi keluarganya yang semakin seret, sangat khawatir akan tidak bertahan sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah, apalagi untuk meneruskan kuliah kelak.
Baginya, "gantungkan cita-citamu setinggi langit" bukanlah kata-kata mutiar a, melainkan momok yang membuat hati getir. Untuk rutin membayar SPP dan membeli alat-alat serta buku-buku sekolah saja semakin hari semakin tak bisa dijamin.
Salah satu kelemahan adik kita ini adalah dalam kondisi seperti ini, ia hanya berinisiatif untuk 'meminta'.

Bukankah seandainya ada di antara pembaca yang bersedia menjadi semacam Bapak asuh, menjadi kurang 'optimistis' karena sikap mental semacam ini?
Apa yang harus ia tunjukkan ialah tekad untuk bekerja sambil sekolah, daya juang yang tak kemauan untuk membuktikan peningkatan diri, kemudian selalu bersyukur.
Hal yang sama juga terjadi pada rekannya sepulau: santri di Jaddung, Pragaan, Sumenep, Madura. Ia mengetuk pintu agar ada yang bersedia memberinya biaya yang memenuhi keperluan sekolah. "Ini terpaksa," katanya, "demi menambah pengetahuan untuk hari depan."
Tidak ada yang salah dengan ini semua. Tetapi afdhal (lebih baik) seandainya sebelum la meminta sesuatu, la menawarkan juga sesuatu kepada orang yang dimintalnya tolong. Tapi apa? Barang kerajinan barangkali?

Sesuatu yang khas Madura? Sesuatu yang la ciptakan sendiri yang khas? Atau sekurang-kurangnya tekad dan segala sesuatu yang membuat orang lain bersimpati.

(Harian SURYA, Senin 1 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Selasa, 06 April 2010

Para Patriot (1)

Sahabat kita yang lain adalah seorang pemuda gagah namun pekerja keras. Ia mahasiswa (Agronomi di satu universitas swasta Malang, Jawa Timur), namun tak malu bekerja kasar.
Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, mengerti kedua orang-tuanya rnemanggul beban terlampau berat, sehingga ia memutuskan untuk ikut mengurangi beban itu. Setidak-tidaknya mungkin ia malu: Wong mahasiswa itu agent of social change, elite intelektual dan calon pemimpin bangsa kok numpang makan dan minta biaya sekolah kepada orang tua yang pendidikannya rendah dan melarat. Mosok ujung tombak era
industrialisasi dan globalisasi kok nyusu pada orang agraris-tradisional.
Banyak macam usaha ia tempuh. Makelaran, dagang kecil-kecilan, namun masih belum sumbut untuk keperluan sehari-hari dan biaya kuliah yang merupakan idaman orang tua. Pernah juga ngenger ke sejumlah orang kaya, tapi belum saling ada kecocokan.
Apa yang ia idamkan adalah seandainya ada yang bersedia meminjami modal, dengan perjanjian dan prosedur yang dirundingkan secara fair. "Syukur kalau tanaman anggrek kaya jenis Douglas & Katlya bisa segera laku," tambahnya.
Pemaparan ini tidak hanya mengimbau Kepada Anda-Anda yang bersedia merogoh saku. Ini berlaku juga siapa saja yang tahu manfaat tambah teman dan ilmu pergaulan.
***
Lain lagi Ibunda atau Mbakyu kita berikut ini. Ia bentrok terus dengan suaminya masalah Keyakinan agama dan kini dalam proses meresmikan perpisahan.
Hmmm... yang namanya perpisahan atau perceraian, memang unik. Itu sebuah kemungKinan sunnatullah.

Mungkin karena darurat, mungkin karena memang harus demikian diaektikanya. Bahkan perpisahan bisa merupakan saiah satu bentuk persatuan. Burung 'Dali' di udara terus, burung Gemek/Gemak di daratan dan semak-semak pohon terus: Itu perpisahan fisik, sekaligus persatuan hakiki dalam menjalankan ekosistem kehidupan.
"Lek idek mambu taek, lek adoh mambu kembang." Mbakyu kita ini melihat dan yakin, sebagai mantan suami mantan istri. mereka masing-masing justru bisa berbuat lebih baik di tempatnya sendiri-sendiri yang baru.
Ia sendiri mencoba menemukan diri yang terbaiknya. Output dari segala kompleksitas problem dan kegagalan rumah tangganya, tidak berupa sikap nekad atau kompensasi-kompensasi negatif. Yang menjadi tekadnya kini ialah memusatkan sisa hidupnya untuk "menyeru manusia kepada Tuhan", semacam muballighat, sambil bekerja untuk mencari sandang pangan ala kadarnya sebagaimana orang-orang lumrah lainnya.
Dari Semarang, eks domisilinya, ia telah melakukan perjalanan ke Yogyakarta, Ponorogo (Jawa Timur) dan lain-lain untuk angon nasib, mempelajari agarna secara mendalam dan mencari kemungkinan-kemungkinan.

Ia kiri tinggal di Jember (Jawa Timur); di rumah seorang ibu yang juga aktivis acara-acara keagamaan. Namun ia tidak bersedia menjadi `benalu'.
Apa yang ia perlukan adalah kesediaan suatu institusi keagamaan, lembaga pendidikan, padepokan santri atau apa saja, di mana ia bisa belajar serius narnun juga bersedia bekerja sekasar apa pun, agar ia 'sah' menjadi manusia hidup.

(Harian SURYA, Senin 22 Pebruari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 28 Maret 2010

Buruh 2

Para juragan di perusahaan bisa menatar para buruh -sesudah menatar diri mereka sendiri bahwa perburuhan Pancasila, misalnya, adalah kesejahteraan kolektif pada semua yang terlibat dalam suatu lembaga ekonomi.
Suatu akhlak yang memperhatikan kepentingan bersama, tidak ada yang menghisap, tidak ada yang dihisap, tidak ada yang mengeksploitasi dan tidak ada yang dieksploitasi. Tidak harus berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sebab tempat kedudukan direktur dengan tukang sapu mernang berlainan sesuai dengan struktur pembagian kerja. Namun setidaknya berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Kalau sudah di tatar oleh direkturnya, para buruh akan berkata: "Kami para buruh ini punya kepentingan agar perusahaan tempat kami bekerja ini bisa maju semaju-majunya! Siapa sih pekerja yang menginginkan tempat kerjanya bangkrut? Tidak ada kan? Semakin maju perusahaan tempat kerja kami, semakin sejahtera pula kehidupan kami.
Begitu mestinya kan? dan logikanya, kalau buruh tidak sejahtera, tidak terpenuhi hak-haknya, kurang disantuni kelayakan hidupnya, apalagi kalau standar upah minimal saja tidak dipenuhi, tentu kemajuan perusahaan juga menjadi tidak maksimal."
Mereka menjadi mengerti: "Kami ini mesin. Kalau mesin loyo, bensinnya terlalu ngirit, minyak pelumasnya tidak lancar, yang rugi kan yang punya kendaraan. Beinsin ngirit membuat temperatur mesin menjadi panas, oli kurang mengakibatkan onderdil gampang rusak. Siapakah pengurus perusahaan yang menginginkan mesin kepanasan dan rusak seperti itu?"
Mungkin kemudian ada yang menyaut: "Kalau panas dan rusaknya keterlaluan akhirnya mesin kan mogok!"
Tetapi pasti ada juga yang meneruskan: "Padahal kami sama sekali tidak senang mogok...."
"Benar! Kami tidak suka mogok! Kami ingin bekerja baik-baik dan memaksimalkan hasil perusahaan, sehingga dengan demikian penghidupan kami pun menjadi baik. Sekali lagi kami tidak senang mogok.

Karena itu kami menginginkan suatu mekanisme kerjasama dalam bisnis ini dilakukan secara adil dan tidak memakai cara memaksa mesin menjadi mogok."
"Ya, Pak," demikian kira-kira yang lainnya meneruskan, "kalau Bapak punya mesin, tanyakan kepadanya apakah ia suka mogok, pasti jawabnya tidak. Tapi mengapa terkadang mesin itu suka mogok ya karena keadaannya harus mogok. Karena realitasnya mogok, ia dipaksa oleh kenyataan dirinya untuk hanya bisa mogok, meskipun ia sama sekali tidak senang mogok."
Ketidak sukaan mereka untuk mogok itu, jika sudah ditatar, akan lebih dilandasi oleh filosofi dan cara berfikir yang benar, di samping oleh kesadaran untuk memelihara ketentraman sosial. Mereka menjadi paham hakikat mogok. "Hakikat mogok itu sama dengan hakikat macetnya lalu lintas. Apakah bisa dibuat undang-undang yang melarang jalannya macet?"
Karena kecerdasan Buruh meningkat, maka mungkin E.kan ada yang membuka wawasan lain: "Bagaimana kalau jalan yang ditempuh bukan pemogokan, melainkan suatu cara yang lebih bijak?"
"Apa misalnya?"
"Musyawarah, diplomasi, perundingan...."
Kecil kemungkinan akan ada yang menjawab begini: "Ah, mas ini! Ya Buruh pasti kalah dan diakali saja kalau pakai diplomasi segala. Kami ini makan sekolahan hanya sedikit, sedangkan Bos-bos kami orang pandai semua. Kalau kami ini pandai, mosok ya menjabat sebagai buruh to maaaas .... !"
Artinya, kalau Perburuhan Pancasila menghendaki tidak ada aksi mogok dari para buruh misalnya melalui musyawarah, dialog, di.plomasi, perundingan dan sebagainya cara-cara tersebut bisa dilaksanakan dengan adil apabila ada kekuatan tawar-menawar yang seimbang. Hal tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari posisi dan kondisi sosial, politik, budaya buruh saat ini.
Insya Allah tidak begitu. Kecuali kalau kaum buruh memang disengaja diperbodoh, dibiarkan bodoh dan dibiarkan lemah dan malah dilemahkan. ()

(Harian SURYA, Senin 1 Pebruari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Kamis, 18 Maret 2010

Buruh 1

Sejak di Taman Kanak Kanak, kita selalu diajari bahwa cita-cita yang terbaik adalah membela bangsa dan negara. Sesudah kita dewasa, sekarang.kita selalu menyadari bahwa tugas mulia kita adalah bagaimana senantiasa nenyumbangkan tenaga dan pikiran kita untuk menyejahterakan rakyat, membela bangsa, membahagiakan masyarakat, rnenciptakan ketenteraman sosial. Apa saja yang mengancam ketenteraman sosial, akan kita perangi bersama-sama.

Keyakinan itulah yang saya patrikan dalam hati ketika membaca surat dari beberapa pekerja pabrik, yang beberapa hari kemudian langsung menemui saya di rumah kontrakan. Wajah mereka kuyu, sinar mata mereka layu meskipun penuh semangat, dan pakaian mereka tentu saja---tidak trendy. Sebagai pekerja rendahan, tentulah mereka tak punya kapasitas ekonomi untuk mengejar mode yang larinya selalu sangat lebih cepat dibanding 'langkah' gaji kita semua.

Terus terang, kalau bersentuhan dengan strata pekerja, otak saya langsung curiga. Ini ada urusannya dengan ketentraman sosial. Oleh karena itu saya 'siap perang'. Terus terang saja, saya tidak suka pada pemogokan kaum buruh. Itu mengancam ketentraman sosial. Dan sangat lebih tidak suka lagi kepada sumber atau penyebab-penyebab pemogokan mereka. Misalnya, hak-hak pekerja yang tidak dipenuhi!
"Tampaknya Anda-anda ini sahabatnya Si Komo...?" saya nyeletuk, sesudah beberapa kalimat pembicaraan, serta berdasarkan yang saya ketahui dari surat mereka.
"Kata orang, buruh macam kami ini derajatnya sama dengan onderdil mesin. Tapi ternyata mesin lebih berharga dan lebih bernasib baik dibanding kami, Cak!" salah seorang nrombol. "Opo maneh iku!" kata saya.

"Kalau mesin mogok, ia tidak dipukuli, melainkan langsung diperbaiki, agar bisa digunakan lagi. Kalau kami mogok, lain soalnya. Wong masalahnya hanya aus karena kurang oli, kok lantas bisa sampai ke mana-mana yang kami tidak paham. Yang mbalelo, yang subversif, yang..."

"Bukan," jawab saya, "Bukan sampai ke mana-mana. Hanya sampai ke uang. Uang itu titik pusat gerak-gerik lain dalam kehidupan.
Gerak pendidikan, gerak kebudayaan, gerak politik, tuduhan-tuduhan dan retorika dalam hubungan kerja antar manusia, sesungguhnya bermuara pada uang. Tetapi yang penting, saya tidak mau kedatangan Anda kemari ini menjadi potensi yang bisa mengancam ketentraman sosial. Sebagai warga negara yang berusaha baik, saya selalu merasa wajib mencegah segala sesuatu yang bisa meresahkan masyarakat, meskipun yang bisa saya lakukan ya hanya sebatas begini-begini ini saja...."

"Meresahkan masyarakat bagaimana? Dan ikut mencegah bagaimana," mereka mengejar.
"Misalnya," jawab saya, "seperti dalam kasus yang Anda kemukakan kepada saya: para buruh harus kompak dengan juragan dan semua dalam perusahaan untuk mengantisipasi oknum-oknum yang dinilai tidak bisa melaksanakan undang-undang perburuhan. Para buruh harus selalu meletakkan diri dalam satu kepentingan dengan perusahaan, demikian juga pihak perusahaan harus meletakkan diri dalam dialektika profesional dengan buruh, sebab keduanya saling memerlukan. Para buruh kompak dengan perusahaan dalam pemenuhan hak-hak: gaji yang memadai sesuai dengan Moral Perburuhan Pancasila, imbalan lembur, fasilitas kesehatan, cuti haid, cuti hamil, hak berorganisasi, keterbukaan dan keadilan ketentuan kesejahteraan buruh... pokoknya semua segi hubungan kerja - nya. Perusahaan juga harus bertindak tegas kalau ada buruh yang menyogok atau menyewa pihak luar yang punya kekuatan untuk menekankan kepentingannya. Kalau ternyata buruh tak mungkin melakukan itu karena tak punya biaya,ya perusahaan yang harus waspada jangan sampai dirinya menyewa kekuatan macam itu...."
Saya menganjurkan agar para buruh itu mengusulkan kepada para juragannya, para direktur dan mandor-mandornya, agar memberikan penataran kepada para buruh ---umpamanya---tentang undang-undang perburuhan, apa kata Pancasila tentang hak-hak buruh.... ()

(Harian SURYA, Senin 25 Januari. 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Kamis, 04 Maret 2010

Oknum

Kali ini tampaknya justru saya yang berkonsultasi kepada Anda. Ini menyangkut keluhan seorang ibu rumah tangga yang batinnya sedang sangat tertekan. Berasal dari wilayah dekat kampung halarnan saya sendiri, yakni Mojoagung, Jombang, Javva Timur.
Pernahkan Anda membayangkan bahwa di antara hal-hal dan realitas yang saya ketahui, hanya sekitar 25 persen saja--bahkan mungkin kurang dari itu yang bisa saya ungkapkan melalui tulisan? Ada banyak pintu tertutup atau rambu nilai yang membuat sangat banyak harus disembunyikan atau ditutup-tutupi.
Ada 'rambu' tata aturan politik. Ada etika sosial, baik yang universal maupun yang nasional dan yang khas budaya Jawa. Ada kode etik jurnalistik. Ada 'rambu' SARA, yang penafsiran atasnya selalu kabur dan berdasarkan subjektivisme kekuasaan, dan lain sebagainya. Itu semuia membuat kita sering terpaksa menyembunyikan kejahatan, melindungi kebobrokan, atau menutup-nutupi kekejaman. Kita sungguh-sungguh belum lulus dalam hal menentukan strategi aplikasi dari filosofi demokrasi, keterbukaan, atau yang dalam agama disebut 'qullil haqqa walau kana murran'. Katakan yang benar, meskipun pahit. Yang benar tentang kebenaran, maupun yang benar tentang kejahatan.
Oleh karena itu dalam atrnosfir tertentu saya sering mengibaratkan apa-apa yang dimuat di koran-koran itu ibarat - maaf - `bau kentut'.
Maksud saya, seringkali yang kita baca itu baunya saja. Sedangkan bau itu nya indikator dari realitas kentut.
Bau itu bukan. realitas. Kita tidak pernah tahu apa sebenarnya kentut itu, apa warnanya dan bagaimana bentuknya, dan kemudian yang justru harus diketahui oleh para pembaca koran adalah apa isi perut orang sehingga kentutnya kok begitu baunya, apa saja yang dimakannya, siapa yang ngasih makanan itu, ia dikasih, membeli, atau mencuri.
Alhasil kalau kita baca koran, kita harus punya perhitungan rangkap sebelum menyimpulkan sesuatu. Harus dikunyah, tidak boleh ditelan atau apalagi diuntal begitu saja. Sebab di Indonesia ini, terutama yang ada di jajaran kekuasaan, semua baik. Pejabat pasti baik polisi dan tentara pasti baik. Kasubdit, Kabag, apa saja, semua baik. Yang jelek pasti `oknum'.
Hal ibu rumah tangga yang saya kisahkan ini juga terpaksa tidak 'telanjang' menuliskannya. Cukup intinya saja. Ini bahan silaturahmi antar manusia yang toh punya problem masing-masing. Dan terutama silaturahmi antar ibu-ibu yang siapa tahu diam-diam mengalami penderitaan yang sama, tapi selama ini tak tahu harus diomongkan kepada siapa.
Beliau ini istri kedua dari seorang yang tergolong penting dalam masyarakat. Kepala bagian dari satu urutan yang luhur di sebuah kantor eselon tidak rendah. Sudah pula memiliki gelar sesudah menunaikan suatu jenis ibadat tertinggi.
Tak ada yang menyalahi 'hukum' dengan itu semua. Ada izin resmi dari istri pertama. Ia dikawini karena istri pertama tak mampu melayani', dan dipinang dengan alasan daripada si lelaki harus ke pelacuran.
Tentu, betapa luhur wanita yang sedia berkorban demi menghindarkan seorang hamba Allah dari api neraka.

Tapi yang as jumpai adalah bumerang. Kebiasaan 'jajan' sang lelaki tak berhenti juga. Ditunggu sampai larut malam, katanya rapat, ternyata barusan kencan di Pantai Kenjeran. Si istri kedua sampai pernah meletakkan Quran di atas kepala sang suami untuk mengambil sumpah tentang melacur lagi atau tidak. Ternyata, berdasarkan sejumlah bukti otentik, memang masih.
Padahal. apa saja sudah ia ladeni dari maaf -oral seks, anal seks dan lain sebagainya. Padahal si istri kedua sudah bersedia pisah sama anak-anaknya karena sang suami tak cocok dengan mereka.
Lha, terakhir ini malah ada surat-surat kaleng dan isu beredar bahwa sang suami itu korupsi. "Saya merasa malu, suami saya sering memimpin berdoa, tapi kelakuannya begitu. Saya merasa terhina. Saya minta cerai, tapi tak diperbolehkan".
Jika tak ada siapa pun yang mendengarkan cerita ibu ini, maka tak diragukan lagi justru seluruh suara kesengsaraan batinnya memusat di pendengaran Allah sendiri. Dan jika Allah telah mendengamya, maka hati-hatilah siapa saja yang kelakuan hidupnya menyatakan perang kepada Allah'.
Ibu bisa pilih cara menabraknya secara tegas dan memperjuangkan hak pisah melalui instansi hukum negara dan agama. Bisa juga menghimpun enerji jangka panjang untuk menemani sang suami tercinta menuju khusnul khatimah, dengan berdrum-drum kesabaran dan kepandaian mendidik. Betapa mulia di dunia dan betapa cerah rumah di sorga jika itu dilakukan!
Atau memperbanyak daya kerohanian: salat malam lebih banyak, dzikir lebih rajin, membersihkan hati, mengucapkan wirid-wirid tertentu yang kontekstual untuk itu, serta memasrahkan sepenuhnya kepada kearifanNya.

(Harian SURYA, Senin 13 Januari 1992)

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Rabu, 24 Februari 2010

Kiai nDablek Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta ya Allah tak tertahankan!
Di pasar loak Surabaya, menyaksikan nasib ratusan orang terselip-selip di antara tumpukan besi-besi dan segala macam barang rongsokan, hatiku luluh.
Di pelosok-pelosok kota dan desa, menatapi ibu-ibu, bapak-bapak, bersimbah keringat mernperjuangkan nafkah keluarganya, hatiku gugur.
Di sepanjang jalanan, bersapaan dengan gerak kaki lima, anak-anak penyemir sepatu, remaja-remaja pengamen, pengemis-pengemis, hatiku gugur.
Di mana-manapun saja, wajah-wajah berkeringat, tangan-tangan perkasa, para buruh, penjaga-penjaga pintu gerbang rumah-rumah modal, sopir-sopir, penjaja-penjaja makanan, pegawai-pegawai rendahan, pelayan-pelayan kepentingan sesama manusia; hatiku tercampak.
Aku pengembara di hamparan semestamu, ya Allah. Aku pencari wajah-Mu yang terpencar di wajah-wajah berminyak sahabat-sahabatku sesama orang kecil yang terhampar di segenap sudut ruang-ruang-Mu dan melintasi keabadian waktu-Mu.
Melintasi keabadian waktu-Mu, ya Allah, karena orang-orang kecil ini, karena rakyat ini, abadi di keharibaan-Mu. Raja tak bisa menjadi raja tanpa rakyat. Pemerintah tak bisa menjadi pemerintah tanpa rakyat. Tapi rakyat abadi menjadi rakyat meskipun tak ada raja dan pemerintah.
Aku pencari bunyi suara-Mu yang terdengar dari kesunyian mulut-mulut hamba-hamba-Mu yang digembok oleh cengkeraman tangan Para penguasa dan perebut hak-Mu atas dunia dan kehidupan.
Ketika kutepuk-tepuk bahu Seseorang yang menangis, kujumpai Engkau duduk di sisinya.
Ketika kuusap peluh sekumpulan orang yang membanting tulang dalam kesusahan, kutemui Engkau berada di tengah mereka.
Ketika kusapa mereka-mereka yang kesulitan nasibnya dan karena itu rnereka tertawa-tawa, ketika kulambaikan tangan kepada mereka-mereka yang memanggul beratnya mencari nafkah, dahsyatnya mempertahankan kernanusiaan dan kewajaran hidup kulihat Engkau bercengkerama dengan mereka.
Aku jatuh cinta kepada-Mu ya Allah, sebab aku mencintai mereka. Dan aku jatuh cinta kepada mereka, ya kekasih, sebab aku mencintai-Mu.
Engkau berbisik di telinga Daud kekasihMu: "Wahai Daud, dunia ni hanyalah bangkai yang dikerubungi anjing-anjing yang menarik-narik, mengoyak-ngoyak dan memperebutkannya. Apakah engkau ingin menjadi salah satu dari anjing itu, wahai Daud? Maka perindahlah tutur katamu, sederhanakanlah hidupmu...."
Ya Allah, orang-orang kecil sahabatku itu, tanpa susah payah mencari kesederhanaan, telah langsung Engkau anugerahi kesederhanaan. Di tengah sejumlah orang lain yang memperlombakan kemewahan, kekuasaan, kursi, dengan bayaran kebohongan dan pengingkaran janji.
Ketika di Terminal Bungurasih seorang penjual rokok menyapaku: "Cak Nun, ya? Betapa jatuh hatiku. Ketika berjalan kaki di Raya Darmo dan seorang Satpam dari sarangnya meneriakiku: "Cak Nun!".... betapa terpedaya hatiku. Ketika sopir-sopir taksi di Juanda memperolok-olokkanku "Kiai nDableg!"... ya Allah, betapa bahagianya aku.
Seandainya Engkau membawa George Bush atau tokoh-tokoh lain macam itu untuk menyapaku, percayalah akan menegakkan leher dan mendongakkan wajah. Adapun di hadapan setiap orang kecil kekasih-kekasihMu ini, ya Allah, wajahku tunduk. Hatiku remuk redam dalam kebahagiaan, bagaikan seorang gadis di depan pemuda idamannya.
Hatiku meronta-ronta. Katakanlah kepalaku wahai sahabat-sahabat karibku, apa yang engkau kehendaki untuk kulakukan? Untuk kupersembahkan? Untuk kuberikan? Untuk kusampaikan dan kukerjakan? Baik engkau yang menyapaku di jalanan atau gardu-gardu, maupun kalian yang dari kejauhan saling bersapaan hati denganku.
Kalian semua karena kemurahan hati, keserbakekurangan ekonomi serta berbagai jenis kesedihan yang setengah mati engkau pendam di hati --memperoleh kesempatan untuk mengingat Allah lebih dari saudara-saudaraku yang lain yang serba kecukupan.
Engkau menawari Musa, ya Allah, "Wahai Musa! Apakah engkau ingin bertempat tinggal serumah denganku?" Dan Musa terperangah dan tersujud-sujud saking gembiranya dan bertanya, "Bagaimana itu mungkin, ya Tuhanku?" Lantas Engkau berkata sambil tersenyum, 'Musa! Tidakkah engkau ingat bahwa tempat persemayaman-Ku adalah di mana saja ada hamba-hamba-Ku yang mengingat aku, menyebut-nyebut nama-Ku dalam batinnya, baik karena rasa syukur atau karena keprihatinan hidupnya?"
"Wahai Musa, jika mereka membisikkan asma-Ku, Aku pun memperhatikan mereka. jika mereka mendekat kepada-Ku, aku pun mendekat kepada mereka. Jika mereka menjaga-Ku, Aku pun menjaga mereka. Jika mereka mengangkat-Ku, Aku pun mengangkat mereka, Akulah yang mencuci hati mereka sehingga mereka bangga atas kedekatannya dengan-Ku...."
Ya Allah, cintaku tak tertahankan!
Kuingat pula pernyataan tegas-Mu, "Wahai kekasihku! Kalau engkau terhenyak olehKu aku berdiri untuk-Mu.
Kalau engkau berdiri untuk-Ku, Aku berjalan menghampiri-Ku. Kalau engkau berjalan menghampiri-Ku, Aku berlari menyongsong-Mu!"
Ya Allah, lindungilah mereka dari iklim zaman yang memburamkan penglihatan mereka. Jagalah mereka dari musuh-musuh-Mu yang memperjualbelikan angka-angka dan suara mereka. Temanilah mereka dalam melayani kaum yang Engkau merasa heran kepadanya, sebagaimana firman kudus-Mu, "Aku heran kepada mereka yang meyakini maut, namun tetap saja mantap saja menyombongkan diri. Aku heran kepada mereka yang percaya kepada Hari Perhitungan, namun tetap saja sibuk menumpuk kekuasaan dan harta benda. Aku heran kepada mereka yang tahu persis akan masuk pintu kubur, namun tetap saa tertawa-tawa karena merasa senang di dunia. Aku heran kepada mereka yang yakin akan akhirat, namun tetap saja tenggelam di kursi dunia. Aku heran kepada mereka yang mengerti kefanaan dunia, namun terus saja manambatkan hati padanya...." ()

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Leher Kambing si Miskin

Sukses kampanye tauhid Rasululiah terutarna karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.
Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.
Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, "Hari ini kami serumah tak punya apa-apa." Si anak ngeyel, "Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami."
Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, "Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang."
Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.
Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan inakanan untuk beliau.
Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fagiy, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling 'gawat' dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, bahkan puasa kesejahteraan atau apalagi kemewahan sedemikian rupa. Kaum orientalis maupun kita-kita sampai sekarang jarang menyebut-nyebut betapa pentingnya etos satu ini untuk mempersyaratkan mutu kepemimpinan seseorang atau masyarakatnya.
Muhammad penguasa jazirah Arab, namun menolak untuk menjadi penguasa. Sebab ia adalah pemimpin.

Penguasa dan pemimpin adalah dua rnakhluk dan dua soal yang sama sekali berbeda. Penguasa memanage kekuasaan dirinya atas orang banyak, sedangkan pemimpin memanage cinta dan sistem penyejahteraan.
Ketika itu Muhammad sanggup memperoleh apa saja: dunia sudah digenggamnya. Ia sudah memiliki segala persyaratan untuk duduk di singgasana dan menikmati segala-galanya: jaringan, akar, geniusitas, ketrampilan manajemen, kependekaran fisik, atau apa saja yang harus dirriliki oleh seorang raja.
Namun Beliau ogah jadi raja. Raja itu malik.
'Malik' itu sifat Tuhan. Beliau memilih term Khalifah dan itu sama dengan fungsi setiap manusia, meskipun Allah memuliakannya dengan status nabi dan rasul. Muhammad makan hanya karena lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Beda dengan kita yang terus lapar dalam keadaan kekenyangan. Muhammad bersedia tidur beralaskan daun aren ketika pulang larut malam dan sungkan membangunkan Aisyah.
Muhammad punya pendahulu nenek-moyang yang bernama raja Sulaiman putra Daud. Allah menawarinya apakah mau menjadi raja dan kaya-raya seperti Sulaiman. Beliau menolak. Supaya masuk syurga duluan, beda dengan Sulaiman yang mendapat jatah terakhir sesudah semua nabi.
Apakah ia, Muhammad itu, seorang masochis-romantik? Seseorang yang sok, anti materi dan cengeng?

Bukankah Allah membuka pintu lebar-lebar, "Kuhamparkah bumi dan langit dan semua isinya. Makan dan minumlah, asal jangan berlebih-lebihan...."? Kenapa Muhammad memilih 'kekurangan' setidak-tidaknya menurut tolok ukur kita sekarang?
Memang kebanyakan kita sekarang jauh lebih kaya dibanding Mohammad. Bahkan 30 juta penduduk Indonesia yang kabarnya masih di bawah garis kemiskinan, belum tentu lebih parah keadaannya dibanding Muhammad. Betapa mungkin, seorang nabi, yang menurut logika moral seolah-olah berhak atas separo jazirah Arab beserta tambang-tambangnya: ketika wafat, malah masih punya hutang beberapa kilogram gandum kepada tetangganya seorang Yahudi? Kita yang satpam atau tukang ojek pun mungkin lebih baik dari itu keadaan ekonominya.
Namun jangankan Muhammad. Sedangkan kepala suku Ammatoa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepala suku Boti, Soe, Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana berlaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap pun dari rakyat. "Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat saya, mereka berhak meniru saya untuk meminta-minta" katanya, "saya harus mencontohkan bagaimana bertariggungjawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, maka dari piling yang saya buat sendiri
dan minum dengan gelas yang juga saya buat sendiri...."
Di mata kita dan cara berpikir kita sekarang, Muhammad dan Amatoa adalah pemimpin yang tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu bagaimana posisi, jabatan, kekuasaan dan peluang.
Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelurn menjadi nabi dan pemimpin, Muhammad membuktikan dulu perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan merijaga setiap ucapannya. Kemudian sesudah jadi nabi malah berhenti berdagang. Padahal 'mestinya' menurut gaya hidup kita yang maju dan modernsesudah tercapai menjadi penguasa itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omset dagang. Semakin tinggi kekuasaan di jalur birokrasi semakin banyak kesempatan fasilitas (dana, kemudahan-kemudahan, dominasi).
Tapi rupa-rupanya "perniagaan" Muhammad mernang lain. Ketika beliau diberi hadiah seekor kambing, lantas disembelih dan dibagi-bagikan ke seluruh tetangganya.
"Sudah habis semua, ya Rasul," kata Aisyah, "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu"..
"Tidak, Aisyah," sahut Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya kecuali lehernya."
Tentu ini diketawain oleh ideolog konsep kepemilikan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 21 Februari 2010

Kepada Siapakah Engkau Mengeluh?

Kepada siapakah engkau mengeluh?
Kepangkuan siapa engkau menumpahkan airmata?
Pintu rumah siapa yang engkau ketuk untuk meminta tolong?
Kalau hari janji telah tiba untuk membayar utang, padahal beras di dapur pun sudah menipis.

Apakah engkau akan mengetuk rumah para artis dan bintang film yang uangnya berlebih dan credit card-nya bertumpuk-tumpuk?
Kalau untuk memperoleh pekerjaan dua hari lagi engkau harus menyediakan ratusan ribu atau sekian juta rupiah uang terobosan: Apakah engkau akan bertamu ke rumah-rumah para eksekutif yang tinggal sekampung denganmu?
Kalau istrimu hendak melahirkan, apakah engkau bisa meminjam kendaraan tetanggamu yang rumahnya berpagar tinggi itu, atau bisakah engkau mencegat kendaraan-kendaaan pribadi yang kosong yang lalu-lalang di jalan umum?
Kalau nasibmu ditimpa gludug "rasionaliasi" alias di-PHK-kan, bisakah engkau lapor kepada Pak RT, Pak RW, Pak KAdus, Pak Kades atau para pamong lainnya yang merupakan pengayorn masyarakat?
Kalau dalam suatu kasus atau konflik di kantor engkau tercampakkan karena engkau tak memiliki kekuasaan, backing dan relasi akankah engkau menumpahkan airmata di kantor Polsek atau Koramil?
Kalau tanah-rumahmu dan tanah rumah teman-temanmu sekampung atau sekecamatn digusur tanpa ganti rugi yang memadai setidaknya karena disunat oleh oknum-oknum pelaksananya: ke manakah engkau akan lari?
Apakah ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah?
Kantor Cabang NU?
Atau kantor Orwil ICMI Atau ke rumah KH. Zainuddin MZ?
Kalau rasa cemburu memanggang dada-mu karena melihat tetangga begitu gampang berganti-ganti mode mobil. Kalau rasa jengkel menampar-nampar perasaanmu karena meiyaksikan jumlah kendaraan pribadi memenuhi lebih dari lima puluh persen jalan-jalan di kotamu. Kalau rasa perih, sakit dendam, menikam jantung ruhanimu, karena rnenghayati perbedaan-perbedaan tingkat hidup yang mencolok, menghayati ketimpangan, kesenangan dan ketidakseimbangan.
Siapakah yang bersedia mendengarkan keluhanmu?
Pak Pendeta?
Pak Cendekiawan?
Pak Seniman?
Pak Ulama?
Pak Khatib di rumah ibadah yang kata-katanya justru harus engkau dengarkan?

Kalau hatimu bingung oleh kesumpegan ekonomi. Kalau perasaanmu gundah oleh pusingan-pusingan hidup yang bak lingkaran setan. Kalau jiwamu serasa akan berputus asa karena sedemikian sukarnya menempuh hidup yang benar. Kalau sukmamu rasanya mau copot karena himpitan-himpitan nasib yang tak tertahankan.

Ke mana dan kepada siapakah engkau rebahkan keletihamu?
Kepada rninuman. keras, ganja, arak dan joget dangdut, mengasyiki ramalan angka-angka, menghirup rasa aman yang praktis melalui pengajian-pengajian akbar?
Adakah peluang, dan tidakkah dilarang, untuk mengemukakan isi hati kita seadanya dan sejujur-jujurnya kepada Pak Lurah, Pak Polisi, Pak Kiai, Pak Menteri, Pak Ilmuwan, Pak Wakil rakyat, Pak Profesional dan lain-lain?
Kalau mernang mungkin kapan dan di mana?
Bolehkah mendambakan bahwa Pak-pak itu pernah sesekali bertanya kepadamu tentang apakah hatimu sedang bersedih, apakah ada kesulitan dan problem yang tak bisa diatasi?
Kalau tidak, lantas kepada siapa engkau nengeluh? Siapa yang bersedia menjamin bahwa engkau dan anak istrimu tidak kelaparan? Siapa yang menemanimu membanting tulang menghabiskan waktu untuk sekadar mempertahankan penghidupan?
Siapa sahabatmu di dunia ini?
Siapa pemimpin yang santun dan memberimu rasa aman?
Allah menuntun mulut kita agar mengucapkan: "Innama asykubastsi wa huzni illalah."
Aku keluhkan derita dan kesedihanku kepada Allah. Tetapi bukankah Ia telah mewakilkan diri-Nya dan tugas-tugas itu kepada kita?
Akankah kita perintahkan Allah agar mengurusi soal kenaikan harga?

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Memasak Nasi dengan Doa dan Asap Dupa

Ayah saya panik melihat gejala saya akan menjadi mahasiswa abadi. Maka ia mengajak saya ke orang tua, semacam dukun...," tulis seorang gadis manis asal Ngawi, mahasiswa Sastra Inggris yang tampak sebel dengan banyak hal di keluarga juga di lingkungannya.
Mungkin saya sendiri yang bersalah. Hati saya terlalu menampung siapa saja. Antara lain yang berhubungan dengan perdukunan dan lain sebagainya, yang kemudian pernah saya tuliskan di media massa dengan judul Kasekten dan Kagunan.
Kalau di Yogya atau di beberapa tempat lain ada orang mau bikin apa-apa, nama saya suka dipakai untuk dijadikan stabilo kultural. Ada seminar kasekten, diskusi paranormal, pendirian badan pengobatan klasik non-medis: lho kok saya yang disuruh ngasih pengantar atau tampil di pers conference. Seolah-olah lantas menjadi sah kalau saya sudah bilang "Okay!"
Padahal dalam banyak urusan semacam itu saya dukung karena berkaitan dengan perluasan lapangan kerja.

Prestasi pembangunan kontemporer kita antara lain adalah menambah jumlah pengangguran, menugasi sarjana menjadi satpam atau penyiksa ratusan ribu pencari kerja dengan menyuruh mereka beli map dan kertas lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Maka segala upaya penciptaan lapangan kerja, sepanjang tidak bermusuhan dengan Tuhan, ya saya dukung sepenuhnya, meskipun untuk itu resikonya saya disalahpahami atau difitnah oleh orang banyak. yang tak mernahami persoalannya.
Maka adik dari Ngawi ini terperangah. Wong Cak Nun kok ngurusi dan seolah-olah meng-OK-kan soal-soal mistik begitu. Tatanan pikiran dan satu dua keyakinannya menjadi terbongkar.
"Saya lahir dan tumbuh di lingkungan Islam KTP alias Islam abangan," katanya, "Ayah saya tidak pernah salat dan hampir semua keluarga saya tidak pernah memperhatikan nilai-nilai agama. Sebenarnya saya ingin hidup di lingkungan keluarga yang Islami. Saya ingin beribadah secara teratur...."
"Bila ada rnasalah atau ingin naik pangkat, ayah saya selalu lari ke orang tua atau orang pintar. Di sana ayah akan dibekali gembolan berisi batu dupa, beras, atau ketan yang dibungkus. Ayah saya orangnya ambisius.

Anak-anaknya menjadi alat kendaraan dari cita-citanya, dia yang menjadi sopir. Makii ketika skripsi saya tidak jadi-jadi karena otak susah diajak kreatif, ia mengajak saya ke orang pintar tersebut. Saya buta masalah-masalah begitu dan sangat takut terjebak syirik. Saya menolak. Saya sempat depressed sebentar karena bingung, takut, cemas, dan kasihan melihat ayah Saya panik. Saya harus mendapatkan jawaban apa hubungan antara syirik dengan dunia kasekten dan pedukunan...."

Sungguh ini pemandangan jamak.
Kisah akan sangat panjang apabila harus kita uraikan.kenyataan tentang dunia pedukunan hakikat realitasnya, juga fungsi kultural dan politisnya. Tetapi untuk saat ini, putri Ngawi kita tak usah membuang-buang energi untuk mengurusi Gunung Kawi, persenggamaari massal Kemukus, dupa, Mbah Karto atau Mbah Karmo. Kelak saja untuk bahan tesis doktor, atau lupakan sama sekali, sebab soal-soal macam itu tak berhak atas ruang dan waktu yang tersedia dalam dirinya.
Yang pertama mesti dilakukan oleh mahasiswa kita ini adalah mensyukuri hidayah Allah bahwa di tengah lingkungan yang sekuler-abangan-kienik, malah lahir dalam dirinya dambaan-dambaan serius untuk mengIslamkan darah daging jiwa raganya.
Selanjutnya ambil jarak dari diri sendiri: engkau seorang yang dianugerahi kecerdasan pikiran, juga kejernihan hati. Skripsimu tak jadi-jadi hanya karena sukmamu belum bisa antisipatif, sumeleh dan tenteram terhadap banyak hal di dunia yang tak direlakan oleh naturnya. Hidupmu masih gugup dan gamang karena gairah untuk melawan ketidakberesan belum mendapatkan mitra kemampuan dan pengalaman yang seimbang.
Kalau engkau harus ikut bertemu ke rumah Mbah Dukun, datang saja, namun dengan niat bukan untuk merdukun (berdukun) melainkan untuk menyenangkan hati ayah--sementara engkau belum sanggup rnengubah kebiasaannya yang penuh penyakit. Soal syirik itu salah caramu memusingkan. Syirik tidak terletak di kuburan, dupa dukun, gembolan atau keris-keris, melainkan bersemayam di dalam gagasan-gagasanmu sendiri. Silakan tidur di kuburan asal sekadar untuk mengambil jarak dari keramaian. Silakan simpan keris seperti halnya engkau menyimpan sepatu dan boneka. Silakan bawa gembolan ke mana-mana
sebagaimana engkau bawa handy talky atau walk-man. Syirik bukan karena bendanya, tapi karena anggapanrnu terhadap benda itu. Jangankan menyembah keris dan dukun, sedangkan menyembah masjid, menyembah salat, menyembah Nabi Muharnmad saja pun syirik namanya.
Selebihnya segera selesaikan skripsi dengan matek aji, niat ingsun, bismillah dan istiqamah --- demi membahagiakan kedua orangtua dan demi supaya lebih gampang dapat pekeraan. Jangan terlalu membebani sekolahan, kampus, dosen-dosen. dan skripsi atau keseluruhan dunia ilrnu pengetahuan dengan kekecewaan-kekecewaan. Jangan minta terlalu banyak kepada semua itu. Kalau mencari ilmu, kearifan dan kemuliaan hidup, jangan andalkan itu semua. Lebih baik berharap kepada bagaimana caramu sendiri melihat dan memperlakukan matahari setiap pagi, dedaunan, tetangga, pasar atau impian-impian aneh setiap malam. Mintalah ilmu kepada Pemiliknya, petiklah anugerah-Nya di setiap butiran udara.
Adapun cara membuat skripsi sama dengan cara menanak nasi. Ialah tidak memakai asap dupa atau doa.

Menanak nasi sediakan kompor dan panci. Membuat skripsi ya menjalani segala metodologi rasional ilmiah yang diperlukan oleh hakikat kosmos suatu skripsi ilmiah.
Doa baru berhak engkau ucapkan hanya sesudah upaya rasional empirik dimaksimalkan.

Harian SURYA, Senin 28 Desember 1992
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Selasa, 16 Februari 2010

Cerdas, Terampil dan Jujur, tetapi Melarat

Seorang pemilik bengkel kendaraan bermotor dan toko onderdil tidak bisa memahami ulah seorang karyawanny a. Dalam suratnya ia menyatakan kebingungannya, apakah harus memecatnya atau memeliharanya terus. Karena di samping hal-hal tertentu merugikan bisnisnya, si karyawan ini juga merupakan kekayaan tersendiri da!am lingkaran usahanya.
"Dia memiliki keterampilan alamiah di bidang permesinan, bisa menangani yang kecil-kecil seperti jam tangan sampai mesin truk, dan tampaknya punya pengetahuan yang tidak rendah tentang mesin kapal.

Mungkin kalau pesawat ia angkat tangan, tetapi terhadap apa saja yang baru dan ia belum tahu, ia begitu penasaran. Dan kalau sudah penasaran, ia akan menghabiskan waktu untuk mempelajarinya, sehingga tugas-tugasnya terbengkalai. Ia lebih merupakan seorang "ilmuwan" daripada seorang karyawan bengkel mesin. " demikian tulis usahawan kita yang pusing ini.
"Ia otodidak penuh, mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya sejak kanak-kanak. Kalau teknisi lain sudah angkat tangan dia selalu. menjadi pamungkas penyelesaian problemnya. Dia juga selalu sangat kritis, dan sesekali, sambil memperbaiki mesin mobil, ia menggerutu menyalahkan pabriknya yang dia keliru mengkonsep sistem-sistem tertentu."
"Tetapi justru karena keahliannya, ia seringkali merugikan usaha saya. Sampai tingkat tertentu ia bisa memperbaiki suatu onderdil dengan cara dan akal yang tak habis-habisnya sampai layak pakai kembali.

Tetapi itu berarti tingkat jual toko saya dirugikan. Padahal sudah menjadi kebiasaan bengkel di mana-mana untuk suka menyuruh pemilik mobil ganti onderdil, dan tentunya hal itu wajar dalam dunia bisnis."
"Yang lebih menjengkelkan, ia tak tahu bagaimana menyerap pembeli. Mestinya ia jangan gampang bilang bahwa mobil seseorang oke-oke saja. Omong kurang ini kurang itu kek, harus didandani ininya dan itunya kek. Juga dalam menggagas setiap pasien yang membawa kerusakan mobilnya, ia cenderung membela pasien, dengan selalu berpikir bagaimana meringankan bebannya. Setiap saran dan perbaikan yang dilakukannya diarahkan untuk penghematan si empunya kendaraan. Saya dong yang celaka. Usaha saya tidak bisa maksimal kemajuannya, tetapi saya juga merasa eman kalau memecat karena sebagai manusia dia sangat menyenangkan, manusiawi dan selalu mampu membuat lingkungan kerja kami menjadi segar."

Alangkah Mengasikkan Kehidupan Ini!
Mungkin itu sebabnya Rasulullah Muhammad meskipun tidak melarang pasar namun wanti-wanti agar memilah-milah betul antara pasar dengan masjid. Kalu sudah cukup lama di pasar, cepatlah masuk masjid, agar selamat kembali sebagai manusia.
Manusia diciptakan sebagai manusia individu dengan dua kosmos: individual dan sosial. Kalau seseorang kehilangan individualitasnya, ia larut menjadi nomer dalam deretan atau kumpulan suatu komunitas. Tapi kalau ia mengintensifkan individualitasnya saja, yang terjadi adalah "individualisme". Lebih menyempit lagi menjadi "egoisme". Menjadi manusia adalah pergulatan untuk menyeimbangkan antara individualitas dan sosialitas.
Si Karyawan itu adalah petugas Allah untuk mengemban "proyek penyeimbangan kemanusiaan" semacam itu.
Dunia usaha, bisnis, berdagang, berniaga, berjual beli, kapitalisasi, adalah salah satu bentuk individualisasi atau egoisasi yang mereduksi keutuhan manusia dan kemanusiaan. Dari kosmos utuh eksistensi manusia, seseorang menyempitkan diri ke dalam kubangan nilai untung rugi, produktif dan konsumtif, dan semua itu dalam perspektif materialisasi dan materialisme.
Bisnis adalah sebuah fungsi sosial, narnun mengacu kepada fungsi ego atau kepentingan sepihak si pelaku dagang. Prosesnya dari "manusia" menjadi "manusia dagang" lantas menjadi hanya "pedagang", manusianya tak berlaku. Di dalam pasar bisnis, segala sesuatu, termasuk rnanusia, Nabi dan Tuhan, hanya berposisi sebagai faktor produksi, sebagai kornoditi, suku cadang, barang jualan, alat produksi, atau apa pun sebutan dan anglenya.
Sedangkan Si Karyawan itu. .hanya "manusia". Ia hanya berhubungan dengan manusia dan apapun dalam kedudukan dan nilai-nilai sebagai manusia. Ia tidak punya bakat untuk mengeksploitir benda, manusia dan peristiwa fang dialaminya untuk orientasi laba pribadi. Ia tidak bisa menjadi kapitalis. Dan luga tidak bisa disebut sebagai "bukan manusia kapitalis", sebab kalau kapitalis itu namanya "belum manusia".
Jadi apakah sebaiknya ia dilemparkan atau dipelihara, tergantung Pak pemilik bengkel dan toko, mau berjalan ke mana dan menjadi apa dalam kehidupan ini. Kalau mau jadi kapitalis dan merencanakan bawa harta benda, riunah, mobil, deposito dan credit card ke dalarn kuburan, cepat-cepat campakkan dia supaya Anda senang dan supaya dia juga bahagia. Tapi kalau Anda mau jadi rnanusia, ia adalah sahabat sejati yang menawarkan penyelamatan kemanusiaan juga kemelaratan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Darah Dagingku Riba

Seorang mahasiswa di Malang, melalui suratnya, menyatakan rasa cemas jangan-jangan yang selama ini ia makan dari orangtuanya yang pedagang itu adalah riba. Bahkan, barang haram. Ia mencoba mengislahnya, memperingatkan orangtuanya, memberontak dan terus mencoba menyatakan sikap.
"Dalam berdagang," tulisnya, "Bapak saya selalu mencampurkan antara barang yang bagus dengan yang jelek, sementara ia memberi harga seolah-olah semuanya adalah barang bagus, dan pembeli tidak diberitahu bahwa barang itu campuran. Jelas dalam hal ini mengandung penipuan.
Sebagai putrinya saya telah berusaha menasehati bapak, juga berdoa kepada Tuhan agar beliau menghentikan kecurangan itu. Tapi bapak terus saja, padahal seluruh makan minum dan biaya hidup saya berasal dari kecurangan ini. Saya jadi merasa bahwa saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, shalat, puasa dan amal-amal saya tidak ada gunanya. Darah daging saya ini riba, haram...."
Memang. Para penjual bensin eceran di kios-kios pinggir jalan saja pun selalu memasang pagpn "Jual Bensin Murni." Padahal orang yang paling bodoh pun bisa mengerti bahwa si penjual tidak mungkin mengebor minyak sendiri dan langsung dijual dalam keadaan murni. Bahwa is harus mengarnbil laba dari bensin yang dibelinva di pom, dan satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh laba adalah dengan mencampurkan minyak tanah.
Penipuan sudah sangat telanjang. Dan adapun pada mekanisme perdagangan yang samar dan bisa ditutupi, yang terjadi mungkin `maha' penipuan. Dan kita semua sudah immun (kebal). Sudah merasa biasa dan normal. Di bawah sadar yang kita bawa sehari-hari dalam berdagang, hal itu 'bukan dosa' lagi.
Sesungguhriya, dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran, atau resonansi.

Kalau istri kita hamil, kita rajin-rajin membisiki perutnya dengan kalimah tahyyibah serta doa-doa yang bijak buat anak kita. Itu artinya kita menciptakan atmosfer batin yang akan merupakan landasan kemakhlukan dan kepribadiannya kelak. Bukankah Allah sendiri memperkenankan dan meminjamkan kesanggupan semacam ini dengan pernyataan melalui RasulNya pahwa para orangtualah yang mernerahkan atau menghijaukan
anak-anaknya?
Maka kita putihkan atau kita kuningkan putra kita tidak hanya melalui gerbang kesadaran akalnya; melainkan juga melalui seribu pintu biologis dan spiritual lainnya. Kita lantunkan doa dan harapan melalui pori-pori kulit istri kita dengan harapan pantulan kun fayakan-Nya akan berlaku bagi anak-anak kita sesuai dengan pemenuhannya atas dambaan kita.
Bagi bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional, paedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empirik, baru kernudian mendaya-gunakan gelombang spiritual. Jadi mahasiswi kita di Malang itu tak boleh berhenti melakukan ketiga-tiganya.
Rumah yang sehari-harinya diisi oleh suara mengaji firman berbeda getaran dan rasanya dengan rumah yang dididik oleh suara anjing atau musik-musik serba duniawi. Demikian juga apabila di lubang telinga seseorang yang berbuat dosa kita kirimkan vibrasi firman Allah terus-menerus, para Malaikat dengan sendirinya akan bertugas untuk melaksanakan efek logisnya menuju perbaikan.
Di Jakarta saya sering iseng-iseng omong kepada teman-teman bahwa setiap hirupan napas saya di kota metropolitan ini merupakan defisit spiritual-kosmologis. Kenapa?
Kalau di hati seseorang tergetar suatu niat jahat misalnya untuk menipu, merampok atau menyembah kefanaan dunia, maka sel-sel udara yang ia hisap akan berbeda dengan yang ia hembuskan. Udara yang dihembuskannya sudah mengandung muatan gelombang negatif tertentu. Apalagi jika gelombang itu bukan sekadar berupa itikad di dalam hati, tapi telah merupakan perbuatan-perbuatan nyata.
Dan akan lebih parah lagi apabila pekeriaan sehari-hari udara yang dianugerahkan oleh Allah ini diisi oleh sistem-sistem dan mekanisme ketidakadilan, penindasan atau kebobrokan. Maka udara yang kita hisap sangat potensial untuk menularkannya kepada kita melalui muatan-muatannya, getaran dan resonansinya.

Sesudah melewati jarak waktu tertentu, kita akan dengan sendirinya tuning in kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut.
Di manakah ada tersisa tempat yang tidak membuat kita tuning in dosa-dosa, riba-riba, haram-haram?.

Setiap saat orang-orang di sekitar kita berkata: "Mencari uang haram saja susah, apalagi yang halal!"
Allah tidak menuntut kita putih bersih tatkala kita berada di tengah lautan yang kotor kumuh dan busuk aimya. Juga di tengah arus yang kuat, kita tidak dituntut untuk mampu melawannya, sebab untuk tegak bertahan saja pun sudah amat terpuji. Kalau kita shalat ratusan rekaat sehari karena kita adalah anggota masyarakat Negeri Madinah yang baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur di jaman Rasulullah.
Tapi kalau Shalat lima waktu kita bisa lengkap plus wirid sekian jam saja sambil jalan-jalan di tengah peradaban maksiat abad 20, itu sudah luar biasa. Atau uang kita hanya seribu perak, kita nafkahkan sembilan ratus perak: Itu berpahala lebih besar dibanding tetangga yang menafkahkan sepuluh ribu perak dari sepuluh juta perak uangnya.
Kalau burung-burung bisa terbang, itu normal. Tapi kalau tikus melayang-layang di udara, itu luar biasa namanya. Maka mahasiswi kita di kota dingin tak perlu meratap, melainkan mensyukuri upaya-upaya perbaikannya yang tak inengenal kata stop.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)