Minggu, 08 Februari 2009

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (2)

Aku merasa jelas bahwa aku tak kunjung paham kedua-duanya. Namun aku melihat jarak itu ada, dan di dalam jarak tersebut aku sering menyaksikan usaha-usaha santunan dari yang pertama kepada yang kedua mengalami kebuntuan atau keterjebakan. Oleh jarak itu aku sendiri sering dibikin gagap, tak becus mendudukkan pikiran, bingung menentukan kuda-kuda sikap, bahkan tidak jarang aku menjadi kehilangan diriku sendiri. Di dalam perjuangan gencar memerangi proses pemiskinan itu sering aku menjumpai diriku tak lebih dari sejumlah kalimat indah yang hampa.

Maka aku juga bersyukur bahwa Para mujahid itu tidak bertanya apa yang telah kukerjakan untuk ikut mengatasi problem kemiskinan membebaskan kaum dlu'afa? Sedang kakak-kakakku dalam sejarah lebih mengajariku untuk mensiapakan aku, untuk memacu siapa aku agar melebihi siapa-siapa pun lainnya di muka bumi ini. Aku kurang dididik untuk menyerahkan diri kepada kebaikan proses masyarakat, melainkan dicontohi bagaimana memfungsikan proses masyarakat untuk kepentingan eksistensialku. Itu bisa ditempuh dengan cara menunggang kuda kemiskinan orang banyak, atau menunggang kuda baru yang diciptakan untuk mengantisipasi kuda kemiskinan. Sedemikian rupa, sehingga semakin cepat kuda kemiskinan berlari, makin cepat pula kudaku memacu diri. Jika kuda kemiskinan berhenti, akupun tak bisa mengendarai kuda apapun.

Aku berharap hal yang terakhir ini tidak bakal terjadi. Namun kenyataannya banyak bukti di lapangan memberitahukan kepadaku bahwa para mujahid sehubungan dengan itu butuh sangat berhati-hati, terutama terhadap dirinya sendiri.

Pikiran semacam itu memperbesar ketakutan dan ketidakrelaanku terhadap diriku sendiri apabila aku berbicara tentang problem kemiskinan hanya dengan pikiran-pikiranku.

Sangat nikmat untuk mengepulkan asap warna-wami, menghias angkasa dan koran-koran dan itu baik, sungguh baik tetapi Allah maha lembut bagai sapuan angin sekaligus maha besar melampaui alam semesta: di hadapanNya, seorang muslim menjawab segala sesuatu dengan hidupnya.

Kata-kata dari seseorang, terhindar dari dosa bahkan dosa besar apabila ia merupakan hidup seseorang itu. Aku mengalami bahwa di antara pikiran-pikiran dengan kehidupan, terdapat banyak ragam lakon dosa. Pembayangan terhadap lakon itu merupakan cara yang balk untuk memojokkan diri hanya sungguh-sungguh ke Allah. Ke Allah, yang dewasa ini nampaknya harus dilalui melewati jalan di mana keadaan hidup orang-orang miskin muncul di hadapan akidah kemusliman sebagai amrullah, perintah Allah untuk mengatasinya.

Konteks yang menyatukan orang-orang miskin dengan amrullah ini mungkin berat kita sangga: jaman ini makin memiliki kecanggihan untuk menghiasi jarak antara pikiran-pikiran dan bukti, kenyataan hidup

Lihatlah, bukankah ungkapan ini berasal dari cacah jiwa orang miskin: emosi, impian dan inferioritas? Ketiga faktor psikologis itu tidak pernah dimiliki oleh misalnya seorang perampok, apapun jenis, nama atau julukan bagi perampok itu.

Aku tidak sedang berbicara tentang term 'kapitalistik' yang menyebut adanya kaum intelektual profesional', atau pekerjaan-pekerjaan melelahkan membantu orang miskin yang terjebak oleh kenyataan 'an other trickle down effect'.

Sungguh-sungguh aku berbicara tentang ketakutan bahwa jangan-jangan aku termasuk dalam golongan kaum mustadh'afin, orang-orang (dalam birokrasi atau setidaknya dalam suatu organisasi ‘otomatis’) yang melemahkan orang-orang lain. Banyak orang sudah mencoba berpuasa, yakni sebisa-bisa menghindarkan diri dari mekanisme pelemahan itu dengan resiko 'eksistensial' sehubungan dengan kemungkinan perolehan politis, ekonomis dan kultural; namun toh berbagai informasi dari kaum strukturalis bagai tak menyisakan ruang untuk tak berdosa.

Mungkin ini sentimentil aku saja. Mengapa aku tak bisa tidak mengungkit-ungkit 'manusia'? Apakah karena manusia telah tak bisa menjadi troof perubahan dunia manusia itu sendiri? Apakah karena segala teori perubahan cenderung mengandaikan manusia itu tak bisa dipercaya? Dan istiiah 'tabungan manusia' itu tidak memaksudkan manusia sebagai manusia, melainkan manusia sebagai instrumen dari abstraksi-abstraksi yang diciptakan oleh manusia sendiri?

Dan anggaran bagi kucing dan anjing Amerika mencapai 3,2 milyar dollars setahun. Dan ribuan becak yang tak manusiawi itu dikubur di laut. Dan seorang tukang becak melarikan becaknya pulang kampung, dari Jakarta ke Tegal, siang sembunyi, malam mengayuh becaknya dengan rasa takut memuncak seolah-olah senapan Kumpeni mengacu beberapa meter di jidat dan di belakang punggungnya
(bersambung)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar