Tampilkan postingan dengan label i. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label i. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Februari 2009

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (7-Tamat)

Muhammad adalah sufi teragung yang pemah ada di muka bumi. Ucapan-ucapan beliau amat puitis dan mengandung keindahan yang kaffah bersama kebaikan dan kebenaran. Namun yang lebih penting yaitu bahwa beliau tidak hanya berhenti merenung di gua Hira dan berasyik-asyik sebagai sufi-nabiy yang "masuk sorga tanpa mengajak orang lain". Muhammad keluar dan gua, tampil membebaskan masyarakatnya dari belenggu jahiliyah. Ia menjadi manusia pemimpin dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Ia menjalankan fungsinya yang ganda, tak hanya menjadi sufi-nabiy, namun juga sufi-rasuli dan itulah karya tasauf terbesar.

Maka engkau semua adalah sufi-sufi, sebab bagaimana mungkin kita hindarkan dirnensi-dimensi tasauf itu dalam proses taqorrub kepada Allah. Aku kira akan segera kita jelang suatu masa di mana kaum Muslimin makin mampu menemukan formula kekhalifahan mereka dengan mengorganisir mengerjasamakan pekerjaan-pekerjaan rasuli dengan pekerjaan-pekerjaan nabi.

Pertumbuhan baru dalam masyarakat Muslimin menunjukkan bahwa term khalifah dan kullukum roo'in yang diwahyukan oleh Allah, bukan sekedar perintahNya, melainkan sekaligus janjiNya. Masyarakat Muslimin perlahan-lahan merasakan dan menyadari bahwa mereka bisa memimpin kehidupan, bahwa kalau organisasi-organisasi Islam resmi nampak tidak cukup progresif menanggapi perkembangan tantangan jaman: ummat Muslimin akan mengerjakan pengisian kekurangan tersebut otomatis dengan sendirinya.

Kini semakin melebar dan teracu berbagai pertanyaan dan terobosan terhadap pemaknaan-pemaknaan baru atas nilai-nilai Islam. Ummat Islam telah mulai belajar kembali, menyongsong kewajiban mereka di masa datang untuk memimpin kebudayaan dunia islami. Pengertian-pengertian yang jumud tentang Islam kini mulai diurai kembali. Arti sholat dikembangkan sayapnya. Telinga mereka makin kritis kalau harus mendengar fatwa-fatwa klise tentang puasa yang selalu disebut "untuk menghayati penderitaan kaum miskin" seolah-olah puasa itu dikhususkan bagi orang-orang kaya, sehingga puasa bagi orang miskin ialah "untuk menghayati penderitaan dirinya sendiri". Zakat digugat. Tentu bukan zakatnya yang digugat, melainkan kebekuan radar kreativitas kita terhadap arti zakat. Islam mulai menumbuhkan sistemisasi zakat yang lebih realistis, sekaligus merintis pendidikan manusia-manusia penzakat yang tidak lagi harus ditodong agar berzakat. Dan puasa, diterjemahkan ke dalam kehidupan
nyata. Orang mulai berkata: Kalau sekedar puasa Ramadhan, tidaklah terlalu berat. Tetapi justru puasa dalam kehidupan nyata yang berkaitan dengan kesempatan kerja, penikmatan ekonomi, jabatan, uang pensiun, popularitas, dan seterusnya sungguh-sungguh merupakan tantangan yang menawarkan kematangan kemusliman yang baru dan lebih realistis. Akan juga tiba giliran pertanyaan kepada perolehan air madu haji: bahwa rukun haji bukan hanya menyangkut persoalan fasilitas. Bahwa haji tidak sekedar nomor unit sesudah syahadat. Haji adalah merupakan peringkat sesudah mencapai kematangan sholat, puasa dan zakat. Siapapun silahkan memfungsikan haji sebagai instrumen kepentingan mobilisasi politik atau investasi bisnis ekonomi, namun anak-anak muda Muslimin mulai peka saraf-saraf rohaninya terhadap kebenaran tempelan yang berbeda dengan kebenaran sejati.

Pada saat yang sama proses pemaknaan kembali atas nilai-nilai Islam itu disertai oleh urgensi keharusan mengatasi problem kaum mustadh'afin. Dan tidak sedikit anak-anak muda Kaum Muslimin yang sudah terjun langsung ke dalam pekerjaan melelahkan ini, betapapun organisasi dan strategi-strategi untuk itu belum benar-benar ditemukan rumusnya. Mereka tidak bisa tahan hati menunggu keputusan seminar para dewa yang akan mengungkapkan strategi itu, maka meskipun masih bersifat sporadik, fragmentaris dan ornamental mereka sudah mencoba langsung mengerjakannya. Untuk mewujudkan perilaku kemusliman tidak hams menunggu mode baru Ratu Adil yang berupa suksesi tampuk kepemimpinan politik atau tersedianya wadah kenegaraan bagi sistem nilai baru yang islami. Mereka langsung menabung

Apa yang saya maksud dengan "tabungan Islam" adalah proses islarnisasi dalam arti kebudayaan luas serta dalam satuan-satuan nilai yang universal. Mereka Menabung agar tidak terbawa menjadi lemah tanpa harus menunggu formula kenabian baru dari atas yang coba dibangun dengan buku-buku dan diskusi-diskusi. Mereka menabung agar tidak ikut dilemahkan tanpa harus menanti usaha rekonstruksi lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah atau Nandlatul Ulama, tanpa harus menanti perombakan total isi siaran televisi, lahirya sutradara-sutradara film yang islami atau keinsyafan kultural edukatif para cukong perdagangan kebudayaan sekuler. Mereka menabung untuk tidak melemahkan dengan melatih diri terbiasa berpuasa menahan diri dari segala godaan kesempatan, terutama kekuasaan, uang dan kemewahan; dengan merintis pemanfaatan kebiasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk suatu langkah yang lebih islami. Mereka menabung pekerjaan-pekerjaan yang mereka yakini bersifat
islami tanpa harus menunggu keputusan para Ulama dan cerdik cendekia tentang definisi islami yang paling tepat dan tidak subversif. Mereka menabung untuk tidak mendmbali jumlah orang yang lemah dan dilemahkan tidak dengan hanya membayangkan bagaimana memperoleh granat tangan untuk meledakkan gedung ini dan kantor itu, tidak dengan menyelesaikan dahulu penyelidikan atas rahasia World Bank, rencana-rencana CIA dan KGB atau apa maksud sebenamya dari dilimpahkannya uang dengan jumlah yang sangat banyak oleh organisasi-organisasi non-pemerintah di luar negeri kepada yang disebut pejuang-pejuang penolong kaum dhu'afa. Mereka menabung untuk tidak menambah jumlah orang yang lemah dan dilemahkan tidak dengan membayangkan bagaimana meng-genggam seluruh persoalan dunia ini di sebuah tangannya; melainkan dengan mengerjakan apa yang dapat is kerjakan sebatas langkah kakinya, jangkauan tangannya dan kapasitas tenaga hidupnya.

Pada suatu hari kegagapan makro dan hubungan mikro itu akan bertemu dalam suatu rangka pengelolaan yang lebih artikulatif strateginya. Ummat Islam telah rnulai bekerjasama dengan janji Allah "wanuriidu an-namunna
'alalladziina-studh'ifuu filardli wanaj'aluhum al-immatan wanaj'aluhumu-lwaaritsuun ..."

Bandung, 11 September 1986
(selesai)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Minggu, 15 Februari 2009

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (6)

Dalam skema 'segitiga terpotong' ala rasionalisme dan etos kerja peradaban Barat (dimana titik puncak A adalah manusia, A ke B adalah penelusuran ilmu pengetahuan dan B ke C adalah penerjemahan teknologinya serta B ke A adalah pemfungsian teknologi bagi cita-cita manusia), anak-anak muda Muslimin kini mulai melihat bahwa kebuntuan garis B ke A (kembali) ala Barat adalah karena tidak dikawinkannya teknologi dengan etos keimanan. Bahwa bagi aspirasi Islam, A bukanlah manusia melainkan Allah: dan ini yang menyebabkan kehampaan modernitas abad-20. Maka kini anak-anak muda Muslimin tergerak untuk ikut berpacu mematangkan perjalanan ilmu pengetahuan ke B dan berfastabiqul khoirat mencapai C, tetapi kemudian mengaplikasi garis C ke A dengan Iman, Islam, lhsan. Artinya, tidak lagi terjebak untuk anti ilmu pengetahuan dan fobi teknologi, sebab persoalannya 'tangan bagaimana' yang menggenggam ilmu pengetahuan dan teknologi.

Itulah thariqat modem. Itulah thariqat islami, yang historis, realists, tidak melarikan diri.

Bagiku sendiri menjadi kelas beda antara tasauf nabiy dan tasauf rasuli. Kejelasan itu memberi petunjuk bahwa aku-aku atau engkau-engkau para mujahid yang sebagian tergolong dalam mujahid-nabiy, sebagian lain mujahid rasuli.
Pertama tetap kupegang kesadaran tentang kepemimpinan rohani tasauf atas perjalanan hidup manusia. Tasauf memelihara kedalaman, menjaga kemesraan pergaulan dengan Allah, dan selalu mengingatkan kita untuk mempedomaniNya. Dimensi tasauf yang ini sama sekali tidak bisa digugat.
Pedoman pada kepemimpinan spiritual tasauf yaitu suatu pekerjaan thariqat yang realitas dalam urusan-urusan kehidupan manusia dan masyarakat.

Kita senantiasa sudah memahami posisi kekhalifahan muslim, bahkan semua manusia di muka bumi. Tinggal dibedakan antara kekhalifahan tipe rasul dengan tipe nabi. Seorang Rasul dibebani kewajiban untuk menjadi penggembala ummat secara langsung: ia harus menguasai semua persoalan masyarakat, ia mungkin seorang negarawan, seorang pemimpin politik, bahkan seorang panglima perang, seorang sosiolog, budayawan, serta segala sesuatu yang memiliki kualitas kaffah sebagai manusia. Sedangkan seorang Nabi tidak dituntut sejauh itu, meskipun dalam beberapa segi barangkali ia lebih kental dan mumpuni dibanding manusia Rasul.

Masing-masing tipe ini membawa serta tanggung jawab yang berbeda, perilaku dan strategi yang berbeda, godaan-godaan yang berbeda, kemudahan-kemudahan dan kesulitan yang berbeda.

Seorang sufi yang memiliki sifat kenabian (nabiy) mewujudkan kekhalifahannya dalam bentukan-bentukan sosial budaya yang mungkin eksklusif dan terbatas skala effektivitasnya. Ia mungkin menuliskan doa-doa puisi seperti Rabi'ah Al-Adawiyah: selebihnya ia menjalankan perilaku kehidupan yang seolah sengaja tidak diintegrasikan kepada bahasa kebudayaan orang banyak, sehingga ia sangat 'strategis' untuk disalahpahami atau bahkan dihukum gantung.

Akan tetapi seorang sufi-rasuli tidak boleh mengingkari alam hidup ummat, bahasa-bahasa dan idiom-idiomnya. Segala karya tasaufnya harus diterjemahkan ke dalam bahasa ummat, dengan resiko ia bisa menjadi tidak kental sebagai individu karena pada hakekatnya yang ia lakukan ialah melebur diri ke dalam hatinuraninya dan tubuh ummat. Karya tasaufnya tidak diwujudkan dalam sistem format subyektif individual, melainkan integral dengan keperluan-keperluan Islami sebuah masyarakat.

Muhammad adalah sufi teragung yang pemah ada di muka bumi. Ucapan-ucapan beliau amat puitis dan mengandung keindahan yang kaffah bersama kebaikan dan kebenaran. Namun yang lebih penting yaitu bahwa beliau tidak hanya berhenti merenung di gua Hira dan berasyik-asyik sebagai sufi-nabiy yang "masuk sorga tanpa mengajak orang lain". Muhammad keluar dan gua, tampil membebaskan masyarakatnya dari belenggu jahiliyah. Ia menjadidangkan seorang Nabi tidak dituntut sejauh itu, meskipun dalam beberapa segi barangkali ia lebih kental dan mumpuni dibanding manusia Rasul.

Masing-masing tipe ini membawa serta tanggung jawab yang berbeda, perilaku dan strategi yang berbeda, godaan-godaan yang berbeda, kemudahan-kemudahan dan kesulitan yang berbeda.

Seorang sufi yang memiliki sifat kenabian (nabiy) mewujudkan kekhalifahannya dalam bentukan-bentukan sosial budaya yang mungkin eksklusif dan terbatas skala effektivitasnya. Ia mungkin menuliskan doa-doa puisi seperti Rabi'ah Al-Adawiyah: selebihnya ia menjalankan perilaku kehidupan yang seolah sengaja tidak diintegrasikan kepada bahasa kebudayaan orang banyak, sehingga ia sangat 'strategis' untuk disalahpahami atau bahkan dihukum gantung.

Akan tetapi seorang sufi-rasuli tidak boleh mengingkari alam hidup ummat, bahasa-bahasa dan idiom-idiomnya. Segala karya tasaufnya harus diterjemahkan ke dalam bahasa ummat, dengan resiko ia bisa menjadi tidak kental sebagai individu karena pada hakekatnya yang ia lakukan ialah melebur diri ke dalam hatinuraninya dan tubuh ummat. Karya tasaufnya tidak diwujudkan dalam sistem format subyektif individual, melainkan integral dengan keperluan-keperluan Islami sebuah masyarakat.
(bersambung)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (5)

Itu semua semacam thariqat.

Kegagapan sejarah semacam itu juga dialami oleh anak-anak muda berbagai sejarah dan tempat, namun anak-anak muda Muslimin kini boleh menjalinnya dengan kesadaran dan sikap nilai yang baru. Bahkan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman keilahian yang lebih suci dan dewasa sebagai anak-anak muda itu kini secara naluriah mengambil jarak dari Tuhannya. Kita barangkali mencemaskan mereka karena sudah lama tak sembahyang, bahkan Allah seperti dibencinya dan bahkan dianggapnya tidak ada. Kita tinggal terus mengawani mereka dengan kadar cinta kasih yang lebih tebal, serta dengan menerjemahkan serinci mungkin kesadaran tharigat itu ke dalam kemungkinan-kemungkinan sistem nilai manusia dan masyarakat sehingga mereka 'berpapasan' kembali dengan Allah yang sejati.
Sadar atau tidak sadar kini telah dirintis suatu terobosan pemahaman dan pengalaman keislaman. Anak-anak muda Muslimin telah lama tidak puas dengan polo-pola thariqat para pejalan agama tradisional: dzikir-dzikir verbal, gerak-gerak menuju mabuk, dengan beratus ribu orang lain yang terorganisir, yang akhirnya terjebak untuk sekedar melarikan diri dari dunia yang tidak mampu dirumuskan dan diatasinya. Eskapisme tasauf 'budhistik' ini akhirya menjadi kartus-minus bagi keperluan riil sejarah ummat manusia. Di saat lain kecenderungan ini bahkan menjadi semacam legalisasi kemunafikan, ingatlah umpamanya suatu model teologi timbangan (mizan) di mana pada siang hari orang-orang itu suntuk mengerjakan berbagai kemungkaran yang hampir selengkap malima (maling, madat, minum, madon dan main), sementara malam harinya mereka bersama-sama berdzikir verbal, bersujud kepada Allah dan menangis sejadi-jadinya.

Anak-anak muda Muslimin sudah terlanjur diajari mengerjakan penalaran dan akal sehat, meskipun dengan banyak ironi-ironi sebagai sertaan pendidikan tersebut. Namun akal sehat mereka membawa kesadaran untuk tidak menerima sebagian perilaku thariqat tradisional tersebut.

Pada mulanya mereka mengalihkan kepercayaan kepada simbol-simbol dunia modern: rasionalisme, beragama dengan akal sehat, menolak taqlid buta maupun tak buta. Namun orientasi pokok modernitas yang ternyata sama parsialnya dengan kejumudan perilaku tradisional, membikin mereka tidak menemukan kebenaran yang dikangeni oleh kedalaman jiwa mereka.

Mereka lantas kembali menengok tradisi, namun sudah dilandasi dengan paradigma sikap, wawasan dan kedewasaan ijtihad yang baru. Mereka menggagas dan melayani alam tradisi dan alam modern mulai dengan suatu cara bergaul yang kaaffah. Mereka tidak lagi meninggalkan tradisi tanpa sisa, melainkan melihat bahwa apa yang terjadi hanyalah mandegnya kreativitas thariqat tradisional. Alam modern juga tidak dilihatnya sebagai sebuah dunia lain sama sekali, melainkan sebagai sejarah kreativitas kemanusiaan baru yang sesungguhnya memberi arti dan fenomena baru bagi thariqat lama yang beku dan kekanak-kanakan.

Anak-anak muda Muslimin bahkan mulai tahu bahwa thariqat-thariqat verbal itu bukan tak mereka butuhkan. Itu tetap merupakan tehnik penyucian dan pembongkaran rokhaniah yang praktis. Namun diketahui oleh mereka juga bahwa bentuk-bentuk thariqat kini sangat berkembang ragam karena tantangan-tantangan persoalan manusia pun sudah sangat berbeda. Tinggal persoalannya bagaimana memperlakukan sekolah, buku-buku sekuler, terminologi-terminologi peradaban buntu, segala pemahaman dan perlawanan terhadap gejala jahiliyah dengan suatu sikap tharikat yang sadar dan selalu dibersihkan. Sepanjang mereka berwudlu pada setiap pengalaman kesejarahan, yang kecil maupun besar, maka makna thariqat itu akan insya Allah mereka peroleh sebagai nuur Allah.

Mereka akan mema'rifati kehidupan, mema'rifati problem-problem secara tepat, mema'rifati kebenaran yang sejati, serta mema'rifati cara yang penuh hikmah untuk mengatasinya.

Itu semua merupakan rintisan perwujudan giliran Islam untuk memimpin sejarah dunia.

Syari'at adalah alam. Hakikat adalah realitas sosial. Thariqat merupakan semacam kata kerja dialektis yang berada di antara syari'at dan hakikat serta sekaligus mentrandensi atau mengatasinya. Hanya dengan kekhusyukan thariqat maka ma'rifat akan dicapai.
Islam sangat lengkap dengan petunjuk. Agama ini sedemikian bercahaya. Anak-anak muda Muslimin kini makin menyadari bahwa Al-Qur'an adalah kepustakaan utama. Mereka kini merasuki kitab sucinya dengan pola pendekatan modem yang mereka peroleh dari keilmuan Barat. Pada suatu hari mereka akan menemukan bahwa Al-Qur'an itu sendiri adalah sebuah pendekatan, adalah sebuah metodologi, adalah gambaran dasar dari cara pandang dan terminologi hadiah Allah untuk melihat dan mengolah dunia, manusia dan proses kembali ke sumbernya.

Alyauma akmaltu lakum diinakum hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu segala sesuatu yang dimungkinkan oleh jatah kodrat manusia telah dipuncaki oleh Muhammad dan Al-Qur'an. Kalimat ini kita ucapkan tidak sebagai kamuflase dari kekalahan kesejarahan Ummat Islam atau sebagai hiburan-hiburan jumud sehabis kita tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan abad ini secara islami. Kalimat ini kita ucapkan dengan landasan keyakinan dan iman, dibangun di atasnya rintisan-rintisan pengislaman diri dan dunia dengan membanting tulang dan memeras keringat dalam thariqat.

Muhammad telah menjadi pamungkas segala Nabi dan sesudah beliau tidak ada lagi wahyu diturunkan. Mendengar berita kesempumaan itu lantas anak-anak muda Muslimin lantas kecewa, dengan rasa pilu seolah-olah mereka hidup amat jauh dari Muhammad dan wahyu. Seolala-olah sejarah pencahayaan dan Allah telah berhenti 14 abad yang lalu, dan kini mereka hanya menerima pantulan-pantulan dari cahaya dari tangan yang entah keberapa ribu.

Kini mereka merasakan Muhammad hanya terkubur tulang dagingnya, namun Muhammad sangat mengendap di hati mereka dengan terprogram amat kuat di jaringan komputer pikiran mereka. Kesempurnaan kenabian Muhammad adalah informasi Allah bahwa uswatun hasanah agung itu merupakan cakrawala akhir dari segala yang mungkin dicapai oleh peradaban manusia. Wahyu selesai pada beliau berarti segala puncak prestasi pemikiran dan segala kreativitas manusia telah disediakan sumbernya oleh Al-Qur'an dan terakomodir oleh sistem nilai Islam jika hal tersebut sungguh-sungguh dithariqati. Wahyu tidak berhenti pada abad ke-8, namun puncak kualitas petunjuk Allah artinya yang Ia jatahkan bagi manusia telah terjadi di abad itu atas Muhammad.
Kita sudah lama bagai tidak percaya kepada wahyu, bahkan kepada karomah atau ilham. Kita menjadi inferior dan bergantung kepada informasi-informasi keilmuan dari kaum superior. Ini tidak berarti melihat bahwa wahyu itu sebuah kutub dan informasi 'non-Islam' itu sebuah kutub yang lain. Para kaum superior itu telah mengerjakan, apa yang tidak dikerjakan dari bagian Al-Qur'an, meskipun tak dilandaskan pada etos keimanan dan ikhsan islami. Kini anak-anak muda Muslimin mulai mengerti betapa penting menyerap informasi-informasi itu, namun musti secara islami.
(bersambung)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Rabu, 11 Februari 2009

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (4)

Anak-anak muda yang lain, di atas kapal sejarah yang oleh mereka, mencari pegangan apa saja, pokoknya pegangan: sesuatu yang bisa menolong mereka untuk merasa ada dan berdiri, atau hilang sama sekali. Partai-partai oposan? Kalau menggunakan lensa pandang jangka pendek sesungguhnya mereka hanya terlibat dalam partai apusan. Organisasi-organissasi sosial yang sejauh ini ada cenderung hanya siap menjadi perangkat dari mekanisme yang mereka tidak setujui. Bahkan Tuhan, yang seolah diam abadi, sangat mengecewakan mereka. Dan pada kejadian krisis semacam itu: ternyata din mereka sendiri tidaklah bisa mereka pegang.

Maka anak-anak berlari ke narkotika kebudayaan, tenggelam ke dasar dangdut dan musik rock, sentimentalitas mabuk dunia pop, menulikan telinganya dengan olahraga dan histeria tinju, mengintensifkan eskapisme mistik, atau membikin koloni-koloni kecil di mana mereka menyembah sujud di hadapan arca kepahlawanan Karl Marx atau fundarnentalisme Khomeiny.

Pada momen-momen pertama pegangan-pegangan tersebut mereka genggam dengan tegangan tinggi, sedemikian rupa sehingga dunia tuyul pun bisa dipercayai untuk digenggam. Mereka mencari kemutlakan, kepastian, karena kemutlakan dan kepastian adalah lawan kata dari ketidakmenentuan. Maka mata dan telinga kemutlakan yang juga selalu mereka pakai untuk melihat dan mendengarkan apapun; sebab kalau sesaat saja mereka kehilangan rasa mutlak, berarti terjerumus kembali ke dunia ketidakmenentuan.

Ongkos dari mobilitas kemutlakan ini antara lain ialah keterjebakau untuk mengulang beberapa kegagalan sejarah di masa silam, di Indonesia dan di dunia. Aku merasa tidak perlu mengungkapkan hal ini dengan bahasa jelas karena aku meyakini sepenuhnya bahwa apa ini adalah proses menuju kematangan yang sesungguhnya. Aku merasakan semuanya itu tetaplah ungkapan kemarahan suci, gairah qudus akan sesuatu yang lebih baik sedemikian suci dan kudusnya sehingga sering tidak tepat untuk (perubahan) dunia yang sudah penuh dengan lendir.
Mereka sangat mengasihi kaum dhu'afa, dan sekujur tubuh dan jiwanya terasa gatal untuk segera memperjuangkan nasibnya. Tetapi semua orang mengerti bahwa mencintai itu amatlah tidak gampang: ia harus sangat memberi, namun pada saat yang sama ia sangat egoistis. Misalnya egoistis dengan pegangan ideologinya.

Sahabat saya pernah menulis dengan amat erosional dan aku menyetujui emosi yang memang syah itu. Inilah hasil dari rezim yang terlalu kuat, tetapi ini juga kebiasaan sejarah. Mayoritas anak-anak muda dijadikan dan menjadi bebek-bebek, ternak-ternak, angka-angka, barisan robot mesin politik perusahaan negara. Sementara tumbuh minoritas yang fanatik, puritan, kolot, absolut, penuh 'garis partai', maunya radikal namun untungnya mereka masih kurang tahan dengan gigitan nyamuk.

Anak-anak muda itu membuat kelompok-kelompok kecil, berkeping-keping, tak saling kenal dan belajar bergaul di antara kelompok-kelompok tersebut. Pandangan mereka parsial, watak mereka stereotip, pengetahuan mereka linier, cekcok satu sama lain sehingga kurang sempat benar-benar memahami ilmu-ilmu perubahan. Pada tingkat wawasan intelektual, pada umumnya mereka masih terbengkelai. Namun pada saat yang sama mereka seolah-olah harus menyelenggarakan pekerjaan politik, yang juga masih dimuallafinya.

Untuk hadir di tengah-tengah mereka para 'oposan bikirtari konteksnya tentu saja 'dialektika kekuasaan'. Anak-anak suci tersebut digosok sampai nikmat, dikasih kacamata kuda, dikasih sabun untuk onani politik, dipacu, dijaring, diwuwu, dibikin merasa berjuang, merasa pahlawan, merasa secara intelektual mereka yang paling tahu dibanding seluruh penduduk seluruh dunia dan secara politis mereka akan memimpin perubahan sejarah. Namun pada saat yang sama mereka dibodohkan, dijadikan seperti ular yang berkulit terlalu lembut dengan kepala mendongak terbuka untuk pada suatu hari dipukul dengan popor senapan. Setidaknya akan datang para pekerja publisitas yang memotreti pekerjaan mereka, dan situasi itu memang memuaskan, karena tidak sedikit dari mereka meletakkan diri tidak pada aksentuasi kepentingan perubahan melainkan pada ekshibisi bahwa merekalah perubah-perubah. Artinya, yang mereka artikulir dan mereka perjuangkan, bukanlah kaum lemah yang selalu
disebut-sebut oleh teriakkan mereka, melainkan supremasi model baru kelas mereka sendiri.

Kawan itu mengeluh juga soal kesenian. Di satu pihak kesenian asyik onani sendiri dengan apa yang disebut seni tinggi, lainnya sibuk mengelontongkan ludah indah di pasar persekutuan kapitalis, lainnya lagi di'partai'kan secara plat sehingga kehilangan kesenian, kehilangan kebudayaan, dan akhirnya kehilangan manusia.
Ia seolah-olah, ketika itu, berputus asa: sesungguhnya, ia berkata, di hadapan rakyat miskin, kita bukanlah pemrakarsa perubahan dalam arti yang obyektif historis, melainkan tidak lebih sebagai pejuang dari pamrih-pamrih ideologis
kita sendiri. Kita ingin memperkosa rakyat dengan fanatisme cara pandang kita, dengan mimpi-mimpi Eropa atau Iran kita, dengan azas tunggal kebenaran kita...
Namun aku yakin begitulah memang proses mencari kebenaran. Pada suatu hari ia akan mengendap, dan apa yang perlu diorganisir, akan siap untuk itu.

Aku melihat perubahan memang ada alamnya sendiri. Apalagi dunia anak-anak muda. Mengapa kita harus menolak gejala-gejala itu. Ada belajar, ada diskusi, ada percekcokan, ada pertentangan, pendapat nasional diantara para calon pemimpin, ada bendera yang terlalu cepat dikibarkan, ada penyakit jiwa, ada kelahiran prematur, ada kcbengongan sejarah. Ada cinta kasih kerakyatan, ada ketololan perjuangan, ada kesadaran baru, ada karbit, ada kesetengahmatangan, ada muallaf, ada putus asa, ada harapan, ada belajar, terus ada belajar

(bersambung) =====>>

(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)

Selasa, 10 Februari 2009

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah (3)

Dalam khasanah tasauf, Adam disebut sebagai melambangkan kesehatan. Kesehatan ialah angka pertama dari pekerjaan dan pencapaian apapun yang dimungkinkan oleh kehidupan manusia. "Rumah yang melindungi, baju yang menutup auratnya, sepotong roti serta air" begitu kata Muhammad (Rasul si potret segala yang mungkin dipuncaki oleh prestasi baik manusia), merupakan rukun awal dari kehidupan. Hanya dengan tubuh sehat manusia mampu dan jernih mengucapkan syahadat, mengerjakan sholat, mendidik anak, menjadi pedagang, memimpin kaum, atau menulis syair. Dengan kesehatan itu pula manusia menyadari posisi ahsani taqwimnya, mencapai dimensi yang dilambangkan oleh sang Nuh si derajat, kemudian menggagas dan mengalami keilahian bagi Ibrahim yang memilihNya dan dipilihNya. Demikian seterusnya sampai ia terbanting bagai Ismail, kembali belajar merumuskan antum a'lamu bi-umuuri dunyaakum - bagai Musa, lantas menemukan inti ruh bagai Isa dan menggenggam cahaya puncak
kemakhlukan dan kekhalikan bagai Muhammad kekasih Allah.

Demikianlah jangka gelombang Adam hingga Muhammad adalah gambaran plot kehidupan individu manusia maupun kelompok masyarakat.

Akan tetapi Iblis yang berusaha keras membuktikan kebenaran peringatannya kepada Allah tentang ide penciptaan manusia si pengucur darah (tubuh dan jiwa), cukup sukses dengan program-programnya. Para mujahid bercerita kini ada sekitar 100 juta manusia hidup di jaman pra-Adam; tak memperoleh hak kesehatan dasar, sementara sisanya tak cukup punya iktikad untuk mencapai Muhammad.

Di depan rumah berarsitektur istana berpagar tinggi berkawat duri, dari balik jeruji pintu, kita menawar harga belanga dari Rp 250,00 menjadi Rp 100,00. Cita-cita kita ialah ikut memenuhi jalan-jalan raya dengan mobil-mobil pribadi, sehingga hak jutaan orang yang berjejal-jejal antri di Bus atas jalan raya tidak sungguh-sungguh menjadi hak. Kita menyembah manipulasi dan akumulasi, kita menumpahkan tenaga dengan musik rock atau segala macam kebudayaan penghisap daya rohani yang sesungguhnya bisa kita pakai untuk urun memperbaiki dunia; sementara nyanyian Ummi Kaltsurn yang menghimpun energi terasa amat ikut 'penerbang' elite intelektual. Dan dengan bekal kedewasaannya itu mereka telah secara serius mengerjakan banyak hal yang mereka sangka sebagai menolong dan mendidik orang-orang tertindas. 'Blunder'nya terletak pada dua faktor; pertama kualitas manusia mujahidnya, kedua pada jarak antara pengetahuan dengan realitas.

Itu memprihatinkan, dan kita butuh menyadarinya sebagai keprihatinan, karena kita. sungguh-sungguh ingin berbuat sesuatu untuk persoalan mendasar itu. Pada saat yang sama keadaan itu patut disyukuri: semua gejala itu jujur secara sejarah. Itulah anak jaman kita apa adanya. Dajjalisme dan dajjalisasi sudah sedemikian menjadi dan mobil kebingungan di tengah-tengahnya adalah situ model langkah yang sama sekali tidak aneh.

Di dalam perspektif jaman dajjal anak-anak muda merasa diri berada dalam kurungan imperium raksasa di mana 'atas' menginjak 'bawah', di mana 'utara' menguasai 'selatan', di mana 'barat' mengalahkan 'timur' - meskipun yang terakhir mulai cenderung pupus karena lewat kebudayaan orang lebih mampu antisipatif dibanding kalau mereka menghadapi kerajaan politik atau dominasi ekonomi.

Di dalam struktur pokok itu mereka menjumpai dan langsung menghadapi penerjemahan-penerjemahannya ke dalam skala-skala yang lebih kecil dengan berbagai variabel yang saling silang dan sering amat membingungkan daya terminologis mereka. Aku sendiri amat terlibat dalam kebingungan itu. Sejarah ialah sungai pasir berwarna-warni dengan arus yang membuat jumlah pasir tak terhitung itu menjadi kait-mengkait. Aku tidak tahu bagaimana meletakkan rakyat Amerika dalam tubuh imanku. Aku tidak mampu menjelaskan immanensi dunia politik yang anti manusia itu kepada hati nuraniku. Aku tidak paham uang Saudi Arabia itu dipakai untuk apa. Aku tak sanggup menerangkan kepada diriku sendiri tentang konperensi perdamaian yang dibiayai oleh sebagaian hasil penjualan senjata. Aku tidak selalu bisa memelihara ingatan yang menyuruh aku melihat tali yang menghubungkan antara tetanggaku yang selalu terlambat membayar uang bulanan TK anaknya sebesar Rp 7.500,- dengan Bank Dunia.
Ternyata aku ketahuan tidak memiliki cukup tenaga untuk terus menerus mengejar munculnya modifikasi barn struktur kekuasaan kota-desa, negara-rakyat, atau bahkan ulama-ummat dalam konteks kaitan tertentu antara kepemimpinan religius dengan kekuasaan politik; apalagi untuk senantiasa mendzikirkan keprihatinan yang menciptakan jarak antara sesisir pisang di gendongan seorang Ibu dari Nglipar Wonosari dengan sebiji pisang di restoran Cina . Jiwaku terkoyak-koyak ketika setiap kali harus dipanggang oleh jarak yang terlalu jauh antara kenyataan masyarakat dengan segala sesuatu yang setiap hari disuarakan oleh dunia informasi.
Pada saat-saat tertentu amat terasa dunia ini adalah ketidakmenentuan, kegaduhan yang kosong, kemegahan yang hampa, pegangan-pegangan yang tidak bisa dipegang namun selalu dipaksakan untuk dipegang.

Dan tidak ada yang lebih menyiksa dalam hidup ini kecuali bermusuhan melawan ketidakmenentuan. Maka sebagaian anak-anak muda ingin secepatnya menemukan sosok yang dianggapnya paling jelas mewakili sumber ketidakmenentuan itu, dan segera pula menabrakkan kepalanya ke dinding karang sosok tersebut. Hal semacam ini sama sekali tidak aneh, karena sang anak ketidakmenentuan akan melahirkan juga ketidakmenentuan.
(bersambung)
(Emha Ainun Nadjib/"Nasionalisme Muhammad"/Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok)